
Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) mulai menunjukkan peran lebih luas dalam menggerakkan ekonomi masyarakat desa. Tidak hanya menjadi tempat masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, KDMP juga berkembang mengelola layanan publik desa, membuka akses pasar hingga menyediakan bahan baku bagi pelaku usaha mikro.
Di Desa Lengkong, Kabupaten Bandung, KDMP memperluas kegiatan ekonomi desa dengan mengoperasikan unit usaha pengelolaan sampah warga. Melalui unit usaha ini, KDMP tidak hanya menjalankan fungsi ekonomi lewat perdagangan, tetapi juga mengelola kebutuhan lingkungan masyarakat yang berpotensi menghasilkan pemasukan sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga.
Bendahara KDMP Desa Lengkong, Iwan Setiawan, mengatakan peralihan tersebut dilakukan setelah pengelolaan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dinilai belum berjalan optimal, terutama dalam hal transparansi penerimaan dan pengeluaran keuangan. Pengalihan kemudian diperkuat melalui Peraturan Desa Nomor 4 Tahun 2025.
Setelah pengelolaan dialihkan, koperasi membentuk unit persampahan tersendiri dengan mekanisme operasional dan pembiayaan yang disesuaikan dengan kesepakatan bersama warga.
Untuk sejumlah RW, iuran pengelolaan sampah ditetapkan berdasarkan kesepakatan dengan nilai sekitar Rp1 juta hingga Rp1,25 juta per bulan. Pembayaran dilakukan oleh RW kepada koperasi.
“Kesepakatan itu macam-macam. Ada yang Rp1.000.000, ada yang Rp1.250.000,” kata Iwan kepada Wacana Berita, Selasa (13/10/2026).
Menurut Iwan, unit persampahan kini turut memberikan kontribusi keuangan bagi koperasi. Setelah biaya operasional diperhitungkan, unit tersebut rata-rata menyetorkan dana bersih sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan ke kas koperasi. Setoran tertinggi yang pernah dicapai mencapai Rp6 juta.
Kontribusi tersebut berasal dari penerimaan layanan setelah dikurangi berbagai kebutuhan operasional, termasuk bahan bakar kendaraan dan upah pekerja.
Dari sisi ketenagakerjaan, unit persampahan mempekerjakan 26 orang yang pembiayaannya ditanggung koperasi. Dari total 18 RW di Desa Lengkong, pengelolaan sampah oleh koperasi saat ini sudah mencakup 10 RW.
Dengan demikian, pengelolaan sampah menunjukkan bahwa peluang usaha koperasi desa tidak terbatas pada kegiatan komersial seperti menjual kebutuhan pokok atau produk UMKM. Layanan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan juga dapat menjadi sumber pemasukan bagi koperasi, sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga.
Model ini memperlihatkan bahwa potensi ekonomi desa dapat dikembangkan dari kebutuhan sehari-hari masyarakat, termasuk menjaga kebersihan lingkungan.
Baca Juga: Pembangunan Terus Berjalan, Gerai KDMP Buka Akses Pasar Produk Lokal Papua
Omzet Rp500 Juta, KDMP Perluas Jangkauan Pasar
Aktivitas perdagangan yang semakin beragam turut tercermin dari kinerja KDMP Cileunyi Wetan. Berdasarkan hasil Rapat Anggota Tahunan (RAT), koperasi telah mencatat omzet sekitar Rp500 juta di luar bisnis susu.
Dari aktivitas tersebut, KDMP membukukan Sisa Hasil Usaha (SHU) sebesar Rp99 juta yang kemudian dibagikan kepada anggota melalui RAT.
Dedi mengatakan model tersebut menjadi salah satu pembeda koperasi dengan toko ritel biasa. Anggota tidak hanya mendapatkan manfaat dari selisih harga, tetapi juga berpeluang memperoleh bagian dari hasil usaha koperasi.
“Kalau belanja ke Alfamart atau Indomaret kan tidak ada uang kembalian tahunan. Kalau ke KDMP, di akhir tahun ada uang kembali (SHU),” katanya.
Untuk anggota, terdapat perbedaan harga dengan non anggota yang berada di kisaran Rp1.000 hingga Rp2.000. Dedi menilai selisih tersebut dapat memberikan manfaat bagi anggota yang rutin memenuhi kebutuhan sehari-hari melalui koperasi.
KDMP Cileunyi Wetan juga telah menjangkau mitra di luar lingkungan desa. Salah satunya Koperasi Perkebunan Teh Cibuni yang berbelanja kebutuhan dari KDMP sekitar Rp150 juta per bulan.
Saat periode Lebaran, transaksi tersebut dapat meningkat hingga Rp200 juta. Produk yang dikirim antara lain minyak, beras, mi, detergen, dan berbagai kebutuhan lainnya dengan harga grosir.
Dengan demikian, jangkauan KDMP tidak hanya berada di lingkungan masyarakat sekitar gerai. Koperasi mulai berfungsi sebagai pemasok bagi mitra usaha di luar wilayahnya.
Dari sisi pengembangan usaha, KDMP Cileunyi Wetan menargetkan omzet meningkat dari sekitar Rp500 juta menjadi Rp700 juta.
Di sisi lain, KDMP juga mulai membuka peluang pengembangan pemasaran digital. Dedi mengatakan koperasi berencana mengoptimalkan TikTok dan Instagram untuk memperluas jangkauan pasar. Saat ini, pemasaran digital masih terbatas karena belum memiliki tenaga khusus untuk mengelolanya.
Dari UMKM hingga Petani Masuk Ekosistem KDMP
Peran sebagai penghubung pasar juga mulai dibangun KDMP Desa Lengkong melalui sektor pertanian. Koperasi menjalin kemitraan dengan pengelola budidaya cabai di lahan seluas 4.200 meter persegi.
Dalam tahap awal, KDMP memberikan modal sebesar Rp25 juta melalui empat kali pencairan. Saat ini, pengembangan lahan diperluas hingga sekitar 1,5 hektare, dengan KDMP berperan dalam pembinaan, pengawasan, dan pemasaran hasil produksi.
Dari hasil panen, sekitar 30% dipasarkan melalui KDMP, sedangkan 70% lainnya dijual ke pasar umum. Sebagian hasil panen diperuntukkan bagi kebutuhan anggota.
Untuk memenuhi kebutuhan anggota, permintaan cabai melalui KDMP dapat mencapai sekitar 50 kilogram dalam satu kali panen. Panen dilakukan setiap lima hari dan informasi mengenai ketersediaan komoditas disampaikan melalui grup WhatsApp anggota.
“Paling banyak sekitar 50 kilogram untuk anggota. Panen dilakukan setiap lima hari sekali,” ujar Didi Petani Cabai Tanjung di Desa Lengkong kepada Wacana Berita.
Harga cabai mengikuti harga pasar yang berlaku. Dengan demikian, anggota dapat memperoleh komoditas dari petani yang bermitra dengan KDMP tanpa harus mencari pasokan ke tempat lain.
Pola tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas KDMP mulai bergerak dari sekadar perdagangan barang jadi menuju penguatan rantai pasok lokal. Koperasi dapat menjadi penghubung antara petani sebagai produsen, UMKM sebagai pengolah, dan masyarakat sebagai konsumen.
Model yang sama terlihat di KDMP Cileunyi Wetan. Ketua KDMP Cileunyi Wetan Dedi Nurendi mengatakan koperasi saat ini memperkuat perdagangan kebutuhan pokok seperti beras, Minyakita, minyak goreng, gula, gas LPG, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
Dedi mengatakan harga menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan KDMP karena koperasi berupaya bersaing dengan minimarket dan grosir.
“Kelebihan KDMP Cileunyi Wetan ini adalah harga bersaing. Di sini kan bersaing dengan minimarket. Kita memang harga grosir,” kata Dedi kepada Wacana Berita.
Keberadaan koperasi juga membuat masyarakat di sekitar desa lebih mudah mendapatkan kebutuhan pokok. Menurut Dedi, sebelumnya masyarakat mengalami kesulitan memperoleh sejumlah komoditas seperti gas LPG dan beras SPHP.
“Selama ini masyarakat sekitar bisa tersenyum lebar. Artinya tadi, gas yang tadinya susah dan jarang, sekarang bisa mendapatkan harga yang murah di KDMP ini. Beras juga, masyarakat menengah ke bawah bisa membelinya sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET),” ujarnya.
Selain melayani konsumen, KDMP Cileunyi Wetan juga memasok kebutuhan bagi pelaku UMKM. Pedagang tempe dan gorengan, misalnya, dapat memperoleh minyak goreng, terigu, dan bahan lainnya dari koperasi.
Artinya, aktivitas perdagangan KDMP tidak berhenti pada konsumen rumah tangga. Perputaran barang juga masuk ke pelaku usaha kecil yang membutuhkan bahan baku untuk menjalankan bisnisnya.
Baca Juga: KDMP Lengkong Bangun Rantai Pasok Digital, Hubungkan Produk UMKM dengan Pasar
Pedagang Kecil Mulai Bangun Tabungan Lewat Koperasi Desa
Sebagai pelengkap ekosistem pasarnya, KDMP Desa Lengkong juga memberi kesempatan bagi pelaku usaha kecil untuk menabung melalui simpanan anggota koperasi.
Salah satu pesertanya adalah Ibu Wawan, warga yang sehari-hari berjualan nasi kuning, gorengan, dan berbagai masakan. Ia mengaku baru bergabung sekitar satu bulan dan rutin menyisihkan sebagian uang hasil berjualan untuk ditabung di koperasi.
Ibu Wawan mengatakan, ia biasanya menabung setiap satu atau dua hari sekali, menyesuaikan sisa uang yang diperoleh dari aktivitas usahanya. Menurutnya, lokasi koperasi yang dekat dengan rumah memudahkan dirinya menyimpan uang tanpa harus menunggu tabungan terkumpul dalam jumlah besar.
“Bisa tiap hari ke sini, dekat. Bisa ke sini ditabungin tiap hari,” kata Ibu Wawan.
Bagi Ibu Wawan, tabungan tersebut bukan sekadar menyimpan sisa pendapatan. Ia berharap kebiasaan menabung dapat menjadi langkah awal untuk memperoleh tambahan modal melalui koperasi, sehingga bisa menyewa tempat berjualan yang lebih strategis dan mengembangkan usahanya.
Ia mengaku selama ini masih berjualan dari rumah, sesekali memasok makanan ke warung atau menerima pesanan untuk kebutuhan tertentu. Dengan lokasi usaha yang lebih memadai, Ibu Wawan berharap dapat memperbesar skala penjualan tanpa terbebani pola pinjaman harian yang dinilainya memberatkan.
Integrasi pengelolaan sampah desa, pembukaan akses pasar, dan perluasan rantai pasok membuktikan peran strategis KDMP dalam membangun ekonomi pedesaan yang berkelanjutan.
