
Analis Politik dan Militer Universitas Nasional, Doktor Selamat Ginting, menilai Partai Golkar dan Partai Gerindra kemungkinan memiliki banyak informasi terkait rekam jejak politik Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi semasa menjabat sebagai Bupati Purwakarta.
Menurut Ginting, apabila Dedi Mulyadi meninggalkan Gerindra dan bergabung dengan partai lain menjelang Pilpres 2029, bukan tidak mungkin rekam jejak politiknya di masa lalu kembali menjadi sorotan.
“Bukan tidak mungkin kalau Prabowo, Gerindra bersekutu dengan Golkar ya melihat bahwa KDM ini mengkhianati Gerindra, ini bisa dibongkar apa yang telah dilakukan KDM selama menjadi Bupati Purwakarta. Golkar pasti tahu kartunya, Gerindra pasti tahu kartunya,” ujar Gintng dalam YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Minggu (27/9).
Ia kemudian mengaitkan kemungkinan tersebut dengan pengalaman politik mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjelang Pilgub Jawa Barat 2018.
“Ini kan seperti dulu Ridwan Kamil terpasung karena Nasdem punya kartu di mana kemudian Anda ingat ‘Jaksa Agung’ bisa dibilang dulu orangnya Nasdem, kan seperti itu,” imbuhnya.
Sebagai informasi, sejumlah survei nasional terbaru menempatkan elektabilitas Dedi Mulyadi di posisi yang sangat kompetitif dalam bursa calon presiden 2029, bahkan melampaui Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa simulasi.
Baca Juga: Nyali KDM Ciut Menuju 2029? Pengamat Ragukan Dedi Mulyadi Ikuti Jejak Pembangkangan Jokowi
Berdasarkan survei Tempo Data Science yang dirilis pada 26 Agustus 2026, dalam simulasi pertanyaan terbuka mengenai kandidat presiden terkuat, elektabilitas Dedi Mulyadi berada di kisaran 41-42 persen, sedangkan Prabowo memperoleh 15 persen.
Sementara itu, survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan pada 5-19 Juli 2026 juga menunjukkan tren serupa. Dalam simulasi semi-terbuka, Dedi Mulyadi menempati posisi pertama dengan elektabilitas 35 persen, sedangkan Prabowo berada di angka 14,5 persen.
