
KORAN MANDALA –Warga mengeluhkan bau dan asap yang muncul dari aktivitas pembakaran kulit sapi di Gang Beringin, Kelurahan Nagri Kaler, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta.
Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan warga yang tinggal di sekitar lokasi usaha.Keluhan warga berkaitan dengan aktivitas pengolahan dan pembakaran kulit sapi yang menghasilkan asap serta bau saat proses produksi berlangsung.
Pemilik usaha kulit sapi Erik, mengakui aktivitas pembakaran yang dilakukan memang menghasilkan asap dan bau. Namun, ia mengatakan pihaknya tengah melakukan sejumlah pembenahan agar kegiatan usaha tidak semakin mengganggu lingkungan sekitar.
“Saya selaku pemilik usaha kulit sapi bakar Gang Beringin meminta maaf atas ketidaknyamanan yang saya timbulkan. Kami di sini sedang mengusahakan agar lebih nyaman dan bijak lagi,” ujar Erik, Minggu (27/9/2026).
Menurut Erik, usaha pengolahan kulit sapi yang dijalankannya masih dalam skala kecil. Karena itu, perbaikan terhadap proses produksi dilakukan secara bertahap.
Ia mengatakan tidak menutup mata terhadap keluhan masyarakat. Asap yang muncul selama proses pembakaran diakui dapat mengganggu warga sehingga komunikasi dengan lingkungan sekitar diperlukan untuk mencari penyelesaian.
Sebelumnya, Erik mengaku telah menerima masukan dari petugas Satpol PP untuk memasang cerobong asap. Upaya tersebut sudah dilakukan, meski belum sepenuhnya mengatasi persoalan asap yang muncul selama proses pembakaran.
“Saya sudah mendengarkan saran dari petugas Satpol PP untuk memasang cerobong. Saya minta maaf karena belum bisa mengatasi masalah asap sepenuhnya,” katanya.
Selain memasang cerobong, pihak usaha juga mengubah waktu pembakaran. Jika sebelumnya pembakaran dilakukan sekitar pukul 09.00 hingga 13.00 WIB, dalam sepekan terakhir aktivitas tersebut dipindahkan ke malam hari, sekitar pukul 19.00 hingga 23.00 WIB.
Erik menyebut di luar waktu tersebut tidak ada aktivitas pembakaran. Kegiatan yang dilakukan hanya berupa proses perebusan kulit sapi.
Untuk membahas keluhan tersebut, pihak usaha juga membuka ruang komunikasi dengan warga. Pada Minggu, rencananya digelar musyawarah bersama pengurus RT, RW, dan masyarakat setempat.
Polisi juga disebut telah mendatangi lokasi usaha untuk melihat langsung kondisi di lapangan.
Erik berharap persoalan bau dan asap tersebut dapat diselesaikan melalui komunikasi dengan masyarakat. Ia mengatakan pembenahan sistem pengolahan dan pembakaran akan terus dilakukan agar aktivitas usaha tetap berjalan tanpa semakin mengganggu lingkungan sekitar.
