Monday, September 21News That Matters

BBNI Catat Laba Rp14,32 Triliun, Ada Potensi Penguatan Saham


Wacana Berita, Jakarta –

Kinerja keuangan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) hingga Agustus 2026 menunjukkan tren positif. Pertumbuhan laba bersih, ekspansi kredit, serta efisiensi biaya menjadi sejumlah faktor yang dinilai menopang prospek saham BBNI hingga akhir tahun.

Analis KB Valbury Sekuritas Akhmad Nurcahyadi mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBNI dengan target harga Rp4.720 per saham. 

“Target tersebut menggunakan valuasi 1,0 kali price to book value (P/B) untuk tahun buku 2026,” kata dia dalam risetnya, Senin (21/9/2026).

Sebagai perbandingan, saham BBNI ditutup di level Rp3.650 pada akhir pekan lalu. Dengan demikian, target harga yang dipasang analis tersebut masih berada di atas harga pasar saat ini.

Berdasarkan laporan kinerja keuangan bulanan, BBNI membukukan laba bersih bank-only sebesar Rp14,32 triliun hingga Agustus 2026. Realisasi tersebut telah mencapai 67,4% dari proyeksi KB Valbury Sekuritas dan 66,4% dari konsensus pasar untuk sepanjang 2026.

Dari sisi valuasi, saham BBNI saat ini diperdagangkan pada level 0,8 kali P/B perkiraan 2026. Level tersebut sedikit berada di atas minus dua standar deviasi (SD), yakni 0,7 kali P/B FY2026F.

Kinerja BBNI juga mendapat dukungan dari ekspansi kredit yang kuat. Total kredit tumbuh 27,1% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp977,17 triliun hingga Agustus 2026. Pertumbuhan tersebut bahkan melampaui panduan manajemen maupun proyeksi analis untuk tahun ini.

Pada periode yang sama, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 29,4% YoY menjadi Rp1.124,71 triliun. Dana murah atau current account saving account (CASA) juga tumbuh 16,4% YoY.

Pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana tersebut membuat loan to deposit ratio (LDR) BBNI berada di level 86,8%, lebih rendah dibandingkan 88,4% pada periode delapan bulan pertama 2025.

Sementara itu, rasio kredit terhadap aset meningkat menjadi 68,1% dari 66,5% pada Januari 2026. Hal ini menunjukkan porsi aset BBNI yang disalurkan dalam bentuk kredit semakin besar dibandingkan penempatan dana pada surat berharga.

Ekspansi kredit turut mendorong pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) tumbuh 14,3% YoY. Laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPoP) juga meningkat 13,4% YoY menjadi Rp23,65 triliun.

Laba Agustus Tumbuh 17,4%

Secara khusus, BBNI membukukan laba bersih Rp1,80 triliun pada Agustus 2026. Angka tersebut tumbuh 17,4% YoY dan 11,1% secara bulanan (month on month/MoM), sekaligus melampaui proyeksi bulanan analis sebesar Rp1,75 triliun.

Efisiensi operasional turut menopang pertumbuhan laba. Rasio cost to income ratio (CIR) turun 19 basis poin (bps) secara tahunan dan 264 bps secara year to date (YTD), menunjukkan pengendalian biaya operasional yang semakin baik.

Dari sisi kualitas aset, biaya kredit atau cost of credit (CoC) tercatat 0,91%. Angka ini masih berada di bawah panduan manajemen untuk 2026 sebesar 1%-1,2%.

Kenaikan provisi sebesar 22,7% YoY dinilai lebih mencerminkan strategi pencadangan konservatif atau front-loading untuk mengantisipasi ekspansi kredit yang kuat, bukan semata-mata akibat memburuknya kualitas kredit.

Meski sejumlah indikator menunjukkan perbaikan, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) masih menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati.

NIM BBNI turun 26 bps YoY menjadi 3,4%, terutama dipengaruhi tingginya biaya pendanaan atau funding cost dan sedikit lebih rendahnya imbal hasil kredit.

Meski tertekan, NIM tersebut masih berada dalam rentang panduan manajemen BBNI untuk 2026, yakni 3,3%-3,5%. Pergerakan NIM akan menjadi salah satu faktor yang menentukan kemampuan BBNI dalam menjaga pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas hingga akhir tahun.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *