
Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi menyoroti implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) andalan pemerintahan Prabowo-Gibran. Meski memuji niat mulia di balik program tersebut, Budi Arie mengkritik keras eksekusinya yang terkesan menggunakan pendekatan bisnis.
Menurutnya, MBG adalah program sosial yang Indikator Kinerja Utamanya (KPI) harusnya fokus pada ketepatan sasaran dan manfaat, bukan pada keuntungan (profit).
“Tiba-tiba dibuatlah oleh kepala BGN awal itu didekati dengan business approach. Kalau bisnis, KPI-nya apa? Duit, untung. Enggak bisa nyambung program sosial dengan pendekatan bisnis,” kata Budi Arie.
Budi Arie mencontohkan konsep dapur umum yang memproduksi hingga 3.000 porsi per hari yang rawan memicu masalah kualitas.
Ia mengaku sangat miris ketika mendengar adanya kasus keracunan makanan yang justru menimpa masyarakat bawah.
“Saya sedihnya begini, kalau melihat laporan yang keracunan itu anak orang miskin. Dosa banget, kan? Sedihnya dua kali. Kalau enggak mau keracunan, lu porsinya diturunin dong, jangan 3.000 bisnis, kalau pendekatan bisnis balik modal, ya berantakan,” sentilnya.
Ia menyarankan agar program MBG tidak dipukul rata ke seluruh wilayah, melainkan difokuskan (intervensi) pada daerah-daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) dan wilayah yang memiliki angka stunting tinggi.
