Tuesday, October 27News That Matters

Bisnis Starbucks Indonesia Tertekan, Rugi MAP Boga Membengkak Jadi Rp157,5 Miliar


Wacana Berita, Jakarta –

PT MAP Boga Adiperkasa Tbk (MAPB), pengelola gerai Starbucks di Indonesia, mencatatkan kinerja yang beragam sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Pendapatan perusahaan meningkat, tetapi kerugian bersih justru membengkak hampir 45% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan MAPB mencapai Rp2,56 triliun selama Januari–September 2026. Angka ini tumbuh 9,02% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan Rp2,35 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan demikian, pendapatan perseroan bertambah sekitar Rp210 miliar. Namun, pertumbuhan penjualan tersebut belum mampu mendorong perbaikan laba bersih perusahaan.

Dari total pendapatan tersebut, segmen minuman menjadi kontributor terbesar dengan penjualan Rp1,43 triliun atau sekitar 55,86%. Segmen makanan menyumbang Rp984,72 miliar atau 38,47%, sedangkan segmen lain-lain menghasilkan pendapatan Rp152,87 miliar.

Di sisi biaya, MAPB menghadapi kenaikan beban pokok penjualan yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatannya.

Hingga akhir September 2026, beban pokok penjualan mencapai Rp831,12 miliar, naik 15,50% YoY dari Rp719,56 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Secara nominal, beban tersebut bertambah sekitar Rp111,56 miliar.

Kenaikan biaya ini menekan margin laba bruto perusahaan. Meski laba bruto masih meningkat menjadi sekitar Rp1,73 triliun dari Rp1,63 triliun pada sembilan bulan pertama 2025, margin laba bruto turun dari sekitar 69,38% menjadi 67,53%.

Artinya, meskipun penjualan terus tumbuh, porsi pendapatan yang tersisa setelah dikurangi beban pokok penjualan semakin kecil.

Rugi Bersih Membengkak Jadi Rp157,50 Miliar

Tekanan terhadap profitabilitas terlihat lebih jelas pada laba bersih. MAPB membukukan rugi periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp157,50 miliar sepanjang Januari–September 2026.

Kerugian tersebut membengkak 44,91% dibandingkan rugi bersih Rp108,69 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Secara nominal, kerugian perseroan bertambah sekitar Rp48,81 miliar.

Margin rugi bersih juga semakin lebar, dari sekitar 4,63% pada Januari–September 2025 menjadi 6,15% pada periode yang sama tahun ini.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan belum cukup untuk mengimbangi tekanan biaya dan beban lain yang ditanggung perusahaan.

Aset dan Ekuitas Ikut Menyusut

Selain menghadapi tekanan profitabilitas, posisi keuangan MAPB juga menyusut dibandingkan akhir 2025.

Total aset perseroan tercatat Rp2,54 triliun per 30 September 2026, turun 9,61% dari Rp2,81 triliun pada 31 Desember 2025. Penurunan tersebut mencakup aset lancar maupun aset tidak lancar.

Pada periode yang sama, total liabilitas atau kewajiban perusahaan turun 7,80% menjadi Rp1,30 triliun dari Rp1,41 triliun pada akhir tahun lalu. Penurunan ini terutama dipengaruhi berkurangnya kewajiban jangka pendek.

Baca Juga: Bukalapak Balik Rugi Rp881 Miliar, Investasi Jadi Biang Kerok!

Baca Juga: Danantara: 52% BUMN Merugi hingga Rp27,19 Triliun per Tahun

Sementara itu, total ekuitas MAPB menyusut 11,51% menjadi Rp1,23 triliun, dibandingkan Rp1,39 triliun pada akhir Desember 2025.

Karena ekuitas turun lebih cepat dibandingkan liabilitas, rasio liabilitas terhadap ekuitas meningkat dari sekitar 1,01 kali menjadi 1,06 kali per September 2026.

Secara keseluruhan, kinerja MAPB hingga September 2026 memperlihatkan bahwa pertumbuhan penjualan belum sejalan dengan perbaikan profitabilitas. Pendapatan yang meningkat 9,02% justru diiringi pembengkakan rugi bersih sebesar 44,91%.

Memasuki kuartal IV 2026, kemampuan perusahaan mengendalikan biaya, mempertahankan pertumbuhan penjualan, dan memperbaiki margin keuntungan akan menjadi faktor penting untuk memulihkan kinerja keuangan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *