
Aksi sejumlah pelari yang menerobos pagar pembatas Cut Off Point (COP) di Jakarta Running Festival (JRF) 2026 menuai teguran keras dari Dokter Tirta.
Ia menyayangkan peserta yang memprotes aturan lomba karena merasa dirugikan oleh keterlambatan memulai lari, padahal ketentuan mengenai batas waktu sudah disosialisasikan oleh panitia.
Teguran itu disampaikan Tirta menyusul keluhan pelari yang berada di corral 8. Pelari tersebut mengaku terlambat memulai lomba hingga 27 menit dan meminta kompensasi kepada panitia. Ia bahkan beranggapan pelari dengan kecepatan lebih lambat seharusnya ditempatkan di corral 1.
“Katanya ya saya ini kan di corral 8 telat 27 menit harusnya panitia kompensasi ya kami kan pelari pelan harus ditaruh corral 1,” ungkap Tirta.
Menanggapi keluhan tersebut, Tirta meminta peserta memahami peraturan sebelum mengikuti perlombaan. Menurutnya, penyelenggara JRF telah memberikan edukasi mengenai perbedaan COP dan COT.
“Kamu harusnya baca dulu peraturannya, JRF sudah membuat edukasi dari tiga tahun lalu, apa bedanya COP dan COT di Instagram,” lanjut dia.
Tirta menjelaskan, penghitungan COP dimulai berdasarkan gun time, yakni waktu ketika perlombaan resmi dimulai, bukan dihitung dari saat masing-masing peserta melewati garis start atau corral. Aturan tersebut diterapkan karena jumlah peserta yang banyak dan menjadi salah satu cara agar pelari lebih cermat mengevaluasi kemampuan sebelum mendaftar.
“Kenapa diberlakukan demikian, karena pesertanya banyak dan supaya kalian evaluasi diri, jadi nggak asal daftar,” ucap Tirta.
Ia juga menegaskan bahwa aturan batas waktu dalam perlombaan lari bukan hanya diterapkan di Indonesia. Menurut Tirta, sejumlah ajang maraton di luar negeri, termasuk Tokyo, juga memiliki ketentuan serupa, bahkan dengan penegakan yang lebih ketat.
“Apakah di Marathon lain seperti itu? Iya di luar negeri di Tokyo juga seperti itu, bahkan lebih kejam. Disapu nganggo bis,” ujarnya.
Melihat banyaknya peserta yang menerobos pagar pembatas, Tirta pun melontarkan teguran keras. Ia meminta pelari yang tidak bersedia mengikuti ketentuan penyelenggara untuk memilih ajang lain atau berlari secara mandiri.
“Kalau kalian memang nggak mau ribet ya pilih event-event lain, nggak mau diatur ya lari sendiri. Simpel,” kayanya.
Baca Juga: Apa Itu Pace, COT, dan DNF? Kenali 9 Istilah dalam Event Marathon
Baca Juga: Menkes Dicap Lemah Imbas Pakai Oksigen saat Kunjungan Karhutla, Ternyata Begini Faktanya…
Jakarta Running Festival 2026 berlangsung selama dua hari, yakni 24 dan 25 Oktober 2026. Pada Sabtu, perlombaan mencakup kategori half marathon (21K) dan 5K.
Sementara pada Minggu, peserta mengikuti kategori full marathon (42K) dan 10K. Dokter Tirta sendiri diketahui mengikuti JRF pada Minggu (25/10/2026) dengan mengenakan kostum lebah.
“Pake kostum lebah main dj 50 menit saja 10km. Gerah, panas akibat kostum: bukan alasan,” ungkap Dokter Tirta.
