
Media Vietnam, VnExpress, menyoroti perjalanan Como 1907, klub milik keluarga miliarder Indonesia, Hartono, yang berkembang pesat hingga mampu mengalahkan Manchester United dengan skor 4-1 di Liga Champions pada 21 Oktober 2026.
Dalam laporan yang diterbitkan pada Minggu (25/10/2026), VnExpress mengulas perubahan drastis Como dalam tujuh tahun terakhir.
Klub yang pada 2019 masih berkutat di Serie D akibat krisis keuangan itu kini menjelma menjadi kekuatan baru yang diperhitungkan di sepak bola Eropa.
Perjalanan Como tidak lepas dari investasi keluarga Hartono melalui Grup Djarum. Namun, kisah kebangkitan klub tersebut juga diwarnai perubahan strategi, mulai dari proyek produksi acara televisi hingga pengembangan bisnis sepak bola yang lebih luas.
Como mengalami krisis keuangan ketika Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono mengambil alih klub pada 2019.
Baca Juga: Hubungan Bruno Fernandes dan Michael Carrick Memanas usai MU Ditekuk Como
Melalui Sent Entertainment, anak perusahaan Grup Djarum, keduanya mengakuisisi Como dengan nilai yang dilaporkan mencapai 850.000 euro atau sekitar Rp17 miliar.
Menurut laporan The Observer pada Minggu (18/10/2026), Mirwan Suwarso yang ditunjuk untuk mengelola proyek Como, mengungkapkan bahwa pembelian klub tersebut awalnya tidak didasarkan pada ambisi membangun kekuatan sepak bola Eropa.
“Awalnya kami membeli klub ini untuk sebuah stasiun televisi,” ujar Suwarso.
Ketika itu, Suwarso tengah menjalankan program Garuda Select di Indonesia. Program tersebut mempertemukan pemain muda Indonesia dengan akademi-akademi Eropa.
Como semula diproyeksikan menjadi bagian dari program tersebut. Klub Italia itu akan digunakan sebagai tempat bagi pemain muda Indonesia, sekaligus menjadi objek dokumentasi untuk tayangan televisi.
Namun, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan karena terbentur regulasi pendaftaran pemain non-Uni Eropa.
Manajemen kemudian mengalihkan proyek ke produksi acara yang mengikuti aktivitas seorang CEO asal Amerika Serikat yang baru ditunjuk di Como.
Meski mendapat respons positif, pendapatan dari acara tersebut tidak mampu menutup biaya operasional klub. Mirwan pun menyadari bahwa Como membutuhkan pendekatan bisnis yang lebih serius.
“Jika kami ingin berkembang, itu harus menjadi bisnis,” katanya.
Pada 2023, Suwarso pindah ke London untuk menangani proyek Como secara langsung. Ia kemudian resmi menjabat sebagai ketua klub pada Oktober 2024, ketika Como mulai mempercepat langkahnya menuju persaingan sepak bola papan atas Italia.
VnExpress juga menyoroti peran kekuatan finansial keluarga Hartono dalam mempercepat perkembangan Como.
Keluarga pemilik Grup Djarum itu memiliki bisnis di berbagai sektor, termasuk perbankan, real estate, elektronik, dan elektronik.
Kepemilikan saham di Bank Central Asia (BCA) menjadi salah satu aset penting keluarga Hartono.
Menurut Forbes, kekayaan bersih gabungan keluarga tersebut mencapai 43,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp792 triliun.
Michael Bambang Hartono meninggal dunia pada Maret 2026 dalam usia 86 tahun. Meski demikian, komitmen keluarga Hartono terhadap Como tetap berlanjut.
Dukungan finansial tersebut tercermin dari belanja pemain yang dilakukan klub. La Gazzetta dello Sport mencatat Como menghabiskan sekitar 342 juta euro atau Rp6 triliun untuk merekrut pemain sejak musim 2024-2025 hingga Agustus 2026.
Pada periode yang sama, pengeluaran Como di Italia hanya berada di bawah Juventus, AC Milan, dan Napoli.
Sementara itu, pada bursa transfer musim panas 2026, Como mengeluarkan 127 juta euro atau sekitar Rp2,5 triliun untuk memperkuat skuad.
Investasi tersebut menjadi bagian dari upaya klub membangun tim yang mampu bersaing di kompetisi domestik sekaligus Liga Champions.
Meski mendapat dukungan dana besar, Suwarso tidak ingin Como terus bergantung pada pemilik. Ia ingin klub tersebut berkembang menjadi bisnis yang mampu menghasilkan pendapatan secara mandiri.
Strategi yang dikembangkan adalah menjadikan Como sebagai destinasi wisata olahraga premium.
Klub ini memiliki Stadion Giuseppe Sinigaglia berkapasitas sekitar 13.000 penonton yang terletak tepat di tepi Danau Como, kawasan wisata elite di Italia yang juga dikenal sebagai tujuan selebritas internasional, termasuk George Clooney.
Suwarso menyamakan pendekatan bisnis Como dengan Disney. Sepak bola menjadi daya tarik utama untuk menjangkau publik, sedangkan pendapatan diperluas melalui sektor fesyen, hotel, restoran, pariwisata, dan merchandise.
Menurut laporan The Times, penjualan suvenir dan merchandise Como meningkat dari sekitar 53.000 euro atau Rp1,07 miliar per tahun menjadi lebih dari 10 juta euro atau sekitar Rp202,6 miliar pada tahun lalu.
Baca Juga: Gulung Manchester United, Cesc Fabregas Minta Pemain Como Membumi
Klub tersebut menargetkan penjualan merchandise mencapai 34 juta hingga 40 juta euro atau sekitar Rp688,9 miliar hingga Rp 810,5 miliar pada 2026.
Selain itu, Stadion Giuseppe Sinigaglia dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata.
Pengunjung dapat membeli paket yang menggabungkan pertandingan sepak bola dengan tur perahu di Danau Como, tur kota, dan layanan premium lainnya.
Como juga memperluas bisnis fesyen melalui kolaborasi dengan merek-merek internasional. Dengan demikian, klub tidak hanya mengandalkan pendapatan dari pertandingan dan kompetisi, tetapi juga berusaha memanfaatkan daya tarik kawasan Danau Como untuk membangun bisnis di luar lapangan.
