
Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyatakan pemerintahnya mengharapkan seluruh pihak tetap memenuhi komitmen kontrak komersial menyusul pengumuman Indonesia mengenai pemangkasan ekspor gas alam ke Singapura pada Sabtu (24/20/2026).
Wong mengatakan Singapura mengimpor sebagian besar gas alamnya melalui jaringan pipa dari Indonesia. Gas tersebut menjadi salah satu sumber utama pembangkit listrik di negara itu.
“Pasokan gas tersebut terikat oleh kontrak-kontrak komersial. Kita mengharapkan semua pihak menghormati komitmen masing-masing, dan importir gas Singapura akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya berdasarkan kontrak tersebut” kata Wong dalam siaran People’s Action Party Awards & Conference 2026, Minggu (25/20/2026).
Wong juga menyatakan importir gas Singapura akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya berdasarkan kontrak yang berlaku.
Menurut Wong, pengumuman pemangkasan ekspor gas Indonesia tersebut disampaikan sehari sebelum pidatonya.
Pihak SKK Migas sebagai pihak regulator hulu minyak dan gas bumi mengatakan bahwa langkah tersebut diambil untuk mengalihkan lebih banyak pasokan guna memenuhi kebutuhan listrik domestik Indonesia.
Baca Juga: Ekspor Gas RI Bakal Dievaluasi, Bahlil Ungkap Kriteria Negara Sasaran
Berdasarkan Otoritas Pasar Energi Singapura (Energy Market Authority/EMA), pengurangan pasokan mencapai 31 juta kaki kubik standar per hari. Volume itu kurang dari 2% dari total kebutuhan gas harian Singapura.
Wong mengatakan pemerintah Singapura telah menyiapkan langkah untuk mengantisipasi risiko gangguan pasokan energi, termasuk dengan berinvestasi pada terminal gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).
Keberadaan terminal LNG memungkinkan Singapura mengimpor gas alam dari berbagai negara tanpa sepenuhnya bergantung pada pasokan melalui jaringan pipa. Infrastruktur tersebut dinilai memberikan alternatif bagi Singapura untuk mengelola potensi gangguan pasokan gas.
Wong menambahkan, pemerintahnya juga tengah mengkaji sumber energi lain untuk menjaga keandalan pasokan listrik. Salah satu opsi yang dipelajari secara serius adalah energi nuklir, di tengah kebutuhan energi yang diperkirakan meningkat seiring perkembangan ekonomi dan kebutuhan komputasi.
“Dapat dimengerti, ada kekhawatiran tentang keamanan tenaga nuklir di negara kecil dan padat penduduk seperti Singapura. Kami menangani masalah dengan sangat serius. Keselamatan harus diutamakan,” kata Wong.
“Tapi kita seharusnya tidak mengesampingkan sebuah opsi hanya karena itu sulit atau kontroversial. Kita harus menilai risiko dan pertukaran dengan hati-hati, melibatkan warga Singapura, dan akhirnya membuat keputusan yang tepat untuk mengamankan masa depan energi kita.”
