
Gaya kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat dinilai menjadi salah satu modal politik Dedi Mulyadi dalam memuncaki bursa calon presiden 2029.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah melihat pendekatan Gubernur Jawa Barat itu memiliki kemiripan dengan strategi yang pernah mengantarkan Joko Widodo atau Jokowi menuju puncak kekuasaan.
Menurut Dedi Kurnia Syah, popularitas yang dibangun melalui media sosial dan aktivitas bersama masyarakat membuat Dedi Mulyadi atau KDM lebih mudah menarik perhatian publik. Strategi tersebut dinilai relevan dengan kecenderungan masyarakat yang menyukai figur pemimpin yang dianggap dekat dengan kehidupan mereka.
“Tokoh-tokoh seperti Dedi Mulyadi ini sebetulnya juga sudah linier dengan tokoh-tokoh sebelumnya, ya sebut saja misalnya Presiden Joko Widodo atau presiden ketujuh misalnya. Populer, disukai, dan juga elektabilitasnya tinggi karena banyak melakukan publikasi propaganda yang berkaitan dengan dekat dengan aktivitas-aktivitas publik,” tutur Dedi dalam pemaparan hasil riset dan diskusi publik secara daring, Sabtu (24/10/2026).
Kemiripan tersebut terlihat dari cara keduanya menampilkan aktivitas sehari-hari bersama masyarakat. Publikasi kegiatan yang dekat dengan kehidupan warga dinilai dapat membangun kesan bahwa seorang pemimpin memahami persoalan yang dihadapi masyarakat.
Penilaian tersebut muncul seiring hasil riset nasional IPO bertajuk simulasi pilihan presiden. Dalam pertanyaan terbuka, Dedi Mulyadi memperoleh elektabilitas sebesar 33,7 persen, sedangkan dalam simulasi dengan daftar nama tertutup, ia meraih 32 persen.
Hasil tersebut menempatkan KDM di posisi teratas dalam dua skema simulasi yang dipaparkan IPO. Meski demikian, angka tersebut merupakan hasil survei, bukan kepastian mengenai hasil Pemilihan Presiden 2029.
Dedi Kurnia Syah menjelaskan bahwa popularitas menjadi salah satu faktor awal yang memengaruhi respons masyarakat terhadap seorang tokoh. Sebelum menentukan pilihan politik, responden cenderung lebih dahulu mengenal dan menilai figur yang muncul di ruang publik.
“Popularitas itu mempengaruhi tingkat kesukaan mereka, artinya popularitas tetap menjadi panduan pertama sebelum responden itu menentukan akan memilih atau menyukai atau tidak,” ujar Dedi.
Dengan demikian, tingginya elektabilitas KDM dinilai tidak terlepas dari kemampuannya membangun pengenalan publik melalui berbagai saluran komunikasi. Aktivitas di media sosial dan interaksi langsung dengan warga menjadi bagian dari strategi yang membuat namanya terus diperbincangkan.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Tak Hadir di Rakornas Prabowo, Pengamat: Kita Tak Bisa Tutup Mata Bahwa KDM…
Dedi Kurnia Syah menilai pendekatan seperti itu memiliki daya tarik karena sebagian masyarakat mulai jenuh dengan gaya pejabat yang dianggap elitis. Figur yang terlihat hadir di tengah masyarakat dinilai lebih mudah memunculkan kesan mewakili kondisi hidup mereka.
“Ya memang ini agak dilematis ya, kenapa? Karena publik saya kira sudah cukup bosan dengan aktivitas-aktivitas pejabat yang yang elitis begitu ya, sehingga mereka cenderung lebih menyukai tokoh atau orang-orang yang memang dirasa mewakili kondisi hidup mereka,” terangnya.
Meski begitu, tingginya popularitas tidak dengan sendirinya menjamin kemenangan dalam kontestasi politik. Elektabilitas masih dapat berubah seiring perkembangan situasi politik, persaingan antartokoh, dan penilaian masyarakat terhadap kinerja masing-masing figur.
Posisi KDM dalam survei IPO menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap dirinya saat ini. Namun, perjalanan menuju Pilpres 2029 masih panjang, sehingga konsistensi kinerja dan kemampuan mempertahankan kepercayaan masyarakat akan menjadi tantangan tersendiri bagi Gubernur Jawa Barat tersebut.
