Friday, October 23News That Matters

Gak Aneh Kalau Ada yang Serang


Wacana Berita, Jakarta –

Nama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali masuk jajaran empat besar bursa calon presiden (capres) dalam survei terbaru.

Di tengah berbagai kritik yang terus mengiringi perjalanan politiknya sejak Pilpres 2024, posisi Gibran dalam survei elektabilitas dinilai berkaitan dengan popularitasnya yang sudah menjangkau sebagian besar masyarakat Indonesia.

Dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 1–10 Oktober 2026, Gibran meraih elektabilitas sebesar 8,4 persen dalam simulasi semi-terbuka dengan 24 nama calon presiden. Ia menempati posisi keempat, berada di bawah Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto.

Baca Juga: Sepupu Ngaku Tak Tahu Pasti soal Jokowi Kuliah di UGM: Terkait Ijazah…

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai tingginya tingkat pengenalan publik terhadap Gibran menjadi salah satu faktor yang membuat namanya tetap berada di jajaran atas survei capres. Menurutnya, popularitas Gibran tergolong tinggi jika dibandingkan dengan sejumlah tokoh politik lainnya.

“Popularitas Mas Wapres ini kan juga cukup signifikan, kan, di atas 90 persen. Dibandingkan dengan yang lain masih 80–70 persen, itu kan nggak merata sebaran pengetahuan publiknya,” kata Adi.

Adi menjelaskan, tingkat popularitas dapat mempengaruhi hasil survei elektabilitas, terutama ketika responden diminta menyebutkan nama calon presiden secara spontan. Tokoh yang lebih dikenal luas masyarakat cenderung lebih mudah muncul dalam jawaban dibandingkan figur yang tingkat pengenalannya belum merata.

Faktor tersebut, menurutnya, turut menjelaskan mengapa Gibran masih masuk jajaran teratas bursa capres, meskipun kritik terhadap dirinya terus bermunculan. Adi bahkan menilai intensitas serangan politik yang menyasar Gibran bukan sesuatu yang mengejutkan jika melihat perjalanan pencalonannya sejak 2024.

“Kalau serangan memang kelihatan fokus ke Gibran itu bukan perkara aneh, ya. Karena memang sejak pencalonan di 2024, serangan itu kan bertubi-tubi,” ungkapnya.

Baca Juga: Bertubi-tubi Masalah, Prabowo Pamer Prestasi Indonesia: Kita Urutan Ketujuh Dunia

Meski demikian, Adi mengingatkan bahwa popularitas yang tinggi tidak otomatis menghasilkan elektabilitas yang sebanding.

Kendati tingkat pengenalan publik terhadap Gibran telah melampaui 90 persen, perolehan elektabilitasnya menunjukkan masih adanya jarak antara masyarakat yang mengenal seorang tokoh dan mereka yang benar-benar memilihnya.

“Wajar kalau kemudian Wapres itu masuk lima besar. Cuma kalau dilihat dari popularitasnya yang tinggi (lampaui 90 persen), lima besar (bursa capres), ya artinya apa? Bahwa yang tahu terhadap Wapres itu ya ternyata tidak dominan yang milih, kira-kira begitu,” ungkap Adi.

Dengan demikian, posisi Gibran dalam survei menjadi gambaran bahwa tingginya popularitas dapat membantu nama seorang tokoh menonjol dalam bursa capres. Namun, tingkat pengenalan tersebut belum tentu berbanding lurus dengan besarnya dukungan politik yang diperoleh.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *