Friday, October 23News That Matters

Kepastian Regulasi Jadi PR Utama Pengembangan Biohidrogen di Indonesia


Wacana Berita, Jakarta –

PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menilai kepastian regulasi menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam pengembangan biohidrogen di Indonesia. Padahal, potensi biomassa domestik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku diperkirakan mencapai 83,4 juta ton per tahun.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengatakan pengembangan biohidrogen masih membutuhkan dasar hukum yang jelas agar dapat berkembang hingga tahap komersial.

“Jadi pekerjaan rumah terbesar kalau kita ingin mengembangkan pemanfaatan biohidrogen adalah memastikan adanya dasar hukum. Saat ini, regulasi untuk pengembangannya masih perlu didorong,” kata Hokkop dalam Program Diaspora Berdampak 2026 di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Depok, dikutip Jumat (23/10/2026).

Selain regulasi, pengembangan biohidrogen juga bergantung pada keekonomian proyek, kesiapan investasi, dan terbentuknya pasar. Menurut Hokkop, ketersediaan bahan baku dan teknologi saja belum cukup untuk memastikan bisnis tersebut dapat berjalan secara komersial.

PLN EPI memetakan potensi biomassa Indonesia mencapai 83,4 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, sekitar 60,6 juta ton diperkirakan belum dimanfaatkan.

Sumatra menyumbang potensi terbesar, yakni sekitar 42,8 juta ton per tahun. Setelah itu, Kalimantan memiliki potensi 18,9 juta ton dan Jawa 13,1 juta ton.

Namun, angka tersebut masih bersifat indikatif. Perusahaan masih perlu memperhitungkan kelayakan teknis dan ekonomi, aksesibilitas, serta kesiapan rantai pasok untuk memastikan jumlah biomassa yang benar-benar dapat dimanfaatkan.

Hokkop mengatakan PLN EPI ingin memperluas pemanfaatan biomassa, yang selama ini antara lain digunakan untuk program cofiring di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), menjadi berbagai produk energi bernilai tambah.

“Jadi, kita bikin ekosistem biomassa, ekosistem CBG, ekosistem hidrogen, untuk memanfaatkan energi kita secara domestik dan mengurangi ketergantungan impor dan fosil,” lanjut Hokkop.

Salah satu jalur pengembangannya adalah mengolah biomassa melalui proses gasifikasi untuk menghasilkan syngas. Gas tersebut kemudian dimurnikan menjadi hidrogen yang berpotensi digunakan untuk kebutuhan industri dan rantai pasok energi rendah karbon.

Selain biohidrogen, PLN EPI mengembangkan portofolio bioenergi yang mencakup biochar, syngas, Compressed Biomethane Gas (CBG), dan pengelolaan sampah.

Untuk mendukung pengembangan hidrogen, perusahaan juga menjajaki sejumlah skema kemitraan, mulai dari penyediaan bahan baku biomassa dan pembelian hidrogen dari produsen hingga investasi bersama dalam fasilitas produksi.

Penjajakan kerja sama internasional turut dilakukan, antara lain dengan eFuels SEA Singapore untuk pengembangan biohidrogen bagi electro-sustainable aviation fuel (e-SAF), serta CISRI Hypore China untuk kajian biohidrogen dan amonia hijau.

Baca Juga: Minta PLN Beri Ganti Rugi Tiang Listrik di Tanah Pribadi, Warga Magetan Gugat UU Ketenagalistrikan ke MK

Baca Juga: PLN EPI Gandeng GETI Kembangkan Energi Berbasis Limbah

Pengembangan hidrogen tersebut masuk dalam peta jalan bisnis bioenergi PLN EPI hingga 2030. Pada 2026, perusahaan memfokuskan kegiatan pada kajian pasokan amonia dan hidrogen, sebelum berlanjut ke pengujian pemanfaatan dan pencampuran hidrogen secara bertahap.

Hokkop menekankan perlunya keterlibatan pemerintah, industri, investor, dan mitra teknologi untuk membangun ekosistem tersebut.

“Perubahan zaman dan teknologi tidak bisa kita tolak. Kita harus mengajak berbagai pihak untuk bergerak ke arah tersebut,” tutup Hokkop.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *