
Aktivis Islah Bahrawi menyoroti Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan yang diduga mengangkat dua putranya sebagai tenaga ahli di kementerian yang dipimpinnya.
Menurut Islah, penunjukan tersebut merupakan bentuk nepotisme dan mencerminkan praktik yang menjadikan negara layaknya “perusahaan keluarga”.
Selain itu, Islah menyebut langkah tersebut sebagai bentuk lain dari “gibranisasi”, istilah yang digunakannya untuk merujuk pada dinasti politik keluarga Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
“Menteri Haji mendaulat dua anaknya sendiri jadi tenaga ahli kementerian. Negara dianggap perusahaan keluarga. Cara “gibranisasi” yang lain lagi menuju generasi cemas 2045,” tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Jumat (23/10).
Baca Juga: Urusan Mengangkat Anak, Menteri Haji dan Umrah Sukses Kalahkan Soeharto
Sebagai informasi, penunjukan tersebut terungkap melalui dokumen Keputusan Menteri Haji dan Umrah Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pengangkatan Tenaga Ahli Menteri Haji dan Umrah. Surat keputusan itu ditandatangani langsung oleh Gus Irfan.
Dua putra menteri yang tercantum dalam daftar tenaga ahli tersebut adalah Barbarossa Muhammad Farros, yang berada pada urutan kedua, dan Gibran Muhammad Fawwaz, yang tercantum pada urutan ketujuh.
