
PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) masih menanggung utang sebesar Rp66,5 triliun per kuartal III-2026, meski telah menjalankan restrukturisasi keuangan sejak 2023. Di tengah upaya menekan beban utang tersebut, manajemen menyatakan akan terus berkoordinasi dengan Danantara untuk memperoleh arahan dan perspektif baru demi mempercepat pemulihan perusahaan.
Corporate Secretary Waskita Karya Steven Subiantoro mengatakan, perseroan telah berhasil menurunkan utang sebesar 20,8% sejak akhir 2023. Posisi utang yang sebelumnya mencapai sekitar Rp84 triliun kini berkurang menjadi Rp66,5 triliun.
Waskita juga terus menjalankan restrukturisasi keuangan melalui Master Restructuring Agreement (MRA) yang ditandatangani pada 2024 bersama 21 bank. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat struktur keuangan sekaligus meningkatkan kemampuan perseroan dalam memenuhi kewajiban kepada kreditur.
“Manajemen Waskita Karya juga berhasil menurunkan beban keuangan menjadi Rp2,79 triliun. Kami akan terus berusaha membayar utang atau kewajiban perusahaan, agar beban keuangan bisa semakin ditekan,” ujar Steven dalam keterangan resmi, Kamis (22/10/2026).
Sejalan dengan restrukturisasi tersebut, Waskita mencatat peningkatan pembayaran kewajiban keuangan. Pembayaran pinjaman bank jangka panjang mencapai Rp701,39 miliar, naik 78,18% dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp393,65 miliar. Sementara itu, total pembayaran beban keuangan meningkat dari Rp1,02 triliun menjadi Rp1,06 triliun.
Perseroan juga menyatakan telah menyelesaikan seluruh kewajiban pajak yang telah jatuh tempo sejak restrukturisasi berlaku efektif. Selain itu, pada September 2026, Waskita memperoleh persetujuan restrukturisasi Obligasi III Tahap IV Tahun 2024.
Meski sejumlah langkah restrukturisasi telah berjalan, besarnya utang yang tersisa masih menjadi tantangan bagi Waskita untuk memulihkan kondisi keuangan dan memperkuat fundamental bisnisnya.
Karena itu, perseroan akan melanjutkan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Danantara selaku pemegang saham, untuk mendapatkan masukan mengenai langkah pemulihan dan pertumbuhan ke depan.
“Koordinasi dengan para pemangku kepentingan dan pemegang saham seperti Danantara (Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara) pun terus dilakukan. Kami selalu terbuka untuk menerima arahan sekaligus perspektif baru guna pemulihan dan pertumbuhan Waskita,” kata Steven.
Baca Juga: Danantara Bertemu Pemegang Saham Pengendali Astra (ASII) di Hong Kong, Ini yang Dibahas?
Baca Juga: Waskita Karya Garap Jembatan Rp1,09 Triliun di Kalsel, Progres Masih 18,4%
Dari sisi operasional, Waskita mencatat pendapatan usaha sebesar Rp8,13 triliun sepanjang Januari–September 2026, naik 53,73% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,29 triliun. Kenaikan tersebut ditopang pendapatan jasa konstruksi yang tumbuh 71,5% menjadi Rp6,45 triliun, termasuk kontribusi realisasi proyek pemerintah senilai Rp3,9 triliun.
Steven menilai peningkatan kinerja operasional tersebut berjalan seiring dengan upaya restrukturisasi keuangan.
Ke depan, Waskita akan berfokus kembali pada bisnis inti sebagai kontraktor murni, dengan memprioritaskan proyek yang menggunakan skema pembayaran bulanan dan menghindari skema turnkey untuk menjaga stabilitas modal kerja.
Dia berharap kombinasi restrukturisasi utang, perbaikan operasional, serta koordinasi dengan Danantara dapat mendukung pemulihan perusahaan. Steven juga menilai persetujuan restrukturisasi obligasi berpotensi meningkatkan peluang pembukaan kembali suspensi perdagangan saham WSKT.
