Monday, October 19News That Matters

Bukan Sekadar Bercanda, Ini Indikator Seseorang Mengalami Bullying


KORAN MANDALA – Pakar Psikologi Komunikasi dari Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, Almadina Rakhmaniar, mengingatkan bahwa perundungan atau bullying di lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi kerap berlindung di balik tradisi senioritas dan dalih bercanda.

Kondisi ini membuat tindakan perundungan sulit dikenali, bahkan korban kerap memilih diam karena takut dikucilkan dari lingkungan sosialnya.

Almadina mengatakan, praktik perundungan tidak selalu disebut secara terang-terangan sebagai bullying. Dalam sejumlah kasus, tindakan tersebut justru dianggap sebagai bagian dari tradisi atau hierarki senioritas yang telah berlangsung lama.

“Bullying di tingkat sekolah ataupun tingkat perguruan tinggi ini sering kali bertahan karena disematkan dalam tradisi atau hierarki senioritas atau bahkan tekanan kelompok yang lebih besar, tapi tidak dijelaskan secara langsung bahwa itu pembullyan” ujar Almadina saat dihubungi Koran Mandala,Senin (19/10/2026)

Menurutnya, korban juga kerap mengalami pembungkaman karena takut dianggap terlalu sensitif atau dicap sebagai orang yang mudah tersinggung ketika menyampaikan keberatan atas perlakuan yang diterimanya.

“Dan kemudian terjadi pembungkaman karena korban takut dipandang sebagai orang yang baperan atau bahkan dia takut diasingkan dari relasi sosialnya dan organisasi,” katanya.

Karena itu, Almadina menilai penting bagi masyarakat untuk memahami perbedaan antara candaan dan perundungan.

Menurutnya, keduanya dapat dibedakan melalui sejumlah indikator, mulai dari relasi sosial, dampak terhadap pihak yang menjadi sasaran, hingga konsistensi dan intensi tindakan tersebut.

“Kalau bercanda, itu terjadinya timbal balik. Jadi secara sosial itu setara dan tidak ada yang merasa disakiti. Kalau bullying, itu pasti ada pihak yang mendominasi dan pihak lain merasa menjadi korban,” jelasnya.

Ia menambahkan, candaan yang sehat seharusnya menciptakan rasa humor yang dapat dinikmati bersama tanpa membuat seseorang merasa terpojok. Sebaliknya, perundungan dapat menimbulkan rasa malu, kecemasan, hingga tekanan pada korban akibat tindakan pihak yang lebih dominan.

“Kemudian, bercandaan ini menciptakan rasa humor yang sama, tidak ada yang merasa terpojok. Sementara kalau bullying, akan ada korban yang merasa malu, cemas, atau bahkan tertekan oleh pihak-pihak tertentu yang mendominasi,” tuturnya.

Selain melihat dampaknya, perbedaan antara candaan dan perundungan juga dapat dikenali dari frekuensi serta tujuan tindakan tersebut. Almadina menjelaskan, candaan umumnya terjadi sesekali atau secara spontan, sedangkan perundungan cenderung dilakukan berulang dengan pola penyerangan tertentu.

“Kemudian dari segi konsistensi dan intensinya. Kalau bercandaan itu biasanya hanya sesekali atau spontan, sementara kalau bullying bisa dilakukan secara berulang dan ada pola penyerangan, dan juga tentu tujuannya untuk merendahkan martabat dari target atau korbannya,” ungkapnya

Dengan memahami indikator tersebut, tindakan yang selama ini dianggap sebagai candaan atau tradisi senioritas dapat dikenali secara lebih tepat. Hal ini penting agar perundungan tidak terus dinormalisasi dan korban tidak merasa harus menanggung perlakuan tersebut dalam diam.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *