
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Senin (12/10/2026). Mata uang Garuda terparkir Rp17.913 per dolar AS ataubmelemah 14 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.899.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan pelemahan rupiah dipicu beberapa faktor. Pasar terus menunggu pengumuman MSCI seputar ancaman degradasi ke Frontier Market hingga potensi pembekuan (freeze) yang terus berlanjut amat menghantui pasar saham Indonesia.
“Jika solusi dapat diterapkan dengan cepat, maka perlakuan khusus bakal tuntas dalam waktu sekitar satu tahun. Namun, jika penyelesaiannya berjalan lambat atau tidak tercapai, maka pembekuan dapat berlangsung selama bertahun-tahun atau bahkan berkembang menjadi penurunan klasifikasi (downgrade),” kata Ibrahim kepada wartawan.
Selain itu, Bank Indonesia mencatat Survei Penjualan Eceran (SPE) Agustus 2026 mengindikasikan peningkatan kinerja penjualan eceran. Secara tahunan, Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus 2026 tercatat sebesar 226,5 atau tumbuh 1,3% (yoy), meningkat dari bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 1,1% (yoy).
Sedangkan, secara bulanan kinerja penjualan eceran pada Agustus 2026 mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,8% (mtm), meningkat dari bulan sebelumnya yang terkontraksi sebesar 0,1% (mtm).
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.894 per Dolar AS di Awal Pekan
Baca Juga: Menguat Pagi Ini, Rupiah Bertengger di Rp17.898 per Dolar AS
Menurut survei BI, kinerja penjualan eceran pada periode Agustus 2026 masih ditopang oleh Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dan Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang masing-masing tumbuh sebesar 3,8% (mtm) dan 1,7% (mtm).
Peningkatan secara bulanan pada Agustus 2026 seiring dengan terjaganya permintaan pada periode Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Lebih lanjut, BI memperkirakan penjualan eceran pada September 2026 diprakirakan meningkat secara tahunan. Indeks Penjualan Riil (IPR) September 2026 diprakirakan tumbuh sebesar 1,4% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,3% (yoy), sehingga mencapai level 221,3
