
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai sejak awal pelantikan telah berjalan dengan orientasi kepemimpinan yang berpusat pada dirinya. Pandangan itu disampaikan oleh Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, yang dikenal memiliki dinamika hubungan tersendiri dengan Prabowo di masa Pemilu 2024.
Menurut Yunarto, anggapan mengenai adanya dua pusat kekuasaan antara Prabowo dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) tidak sesuai dengan dinamika pemerintahan saat ini.
Pandangan tersebut disampaikan Yunarto dalam siniar Total Politik yang tayang pada Rabu (7/10/2026). Ia menilai, meski pergantian pemerintahan semula banyak dikaitkan dengan keberlanjutan kebijakan Jokowi, Prabowo memiliki paradigma dan arah kepemimpinan sendiri.
“Detik pertama Pak Prabowo dilantik, tidak ada matahari kembar. Pemerintahan ini tidak lagi Prabowo-Jokowi, tapi Prabowo-sentris,” ujar Yunarto.
Ia menggambarkan hubungan kedua tokoh tersebut dengan ungkapan “satu bantal beda mimpi”. Menurut Yunarto, Prabowo dan Jokowi berada dalam koalisi yang sama, tetapi memiliki latar belakang, cara berpikir, dan pandangan berbeda dalam mengelola negara.
Yunarto menjelaskan, Jokowi cenderung menggunakan pendekatan bottom-up yang adaptif dan fleksibel, dengan mengandalkan insting serta perhitungan taktis. Sementara itu, Prabowo dinilai lebih terbiasa dengan pola komando top-down, pendekatan deduktif, serta visi yang telah lama ia tuangkan dalam buku Paradoks Indonesia.
Menurut Yunarto, perbedaan cara pandang tersebut memunculkan kekecewaan di kalangan sebagian pelaku pasar modal dan pendukung Jokowi. Mereka sebelumnya berharap pemerintahan Prabowo melanjutkan kebijakan pendahulunya dengan pola yang relatif serupa.
“Mereka (pendukung Jokowi dan pasar modal) merasa akan ada continuity, karena ternyata imajinasi mereka sangat berbeda. Fix, ini rezim perubahan dalam alam pikir,” kata Yunarto.
Ia juga menilai perbedaan orientasi kedua pemerintahan terlihat dalam alokasi anggaran negara. Menurutnya, anggaran infrastruktur yang menjadi salah satu ciri pemerintahan Jokowi mengalami pengurangan, sementara program prioritas Prabowo, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), mendapat dukungan anggaran besar.
Yunarto turut menyoroti pergeseran sejumlah figur di lingkaran strategis pemerintahan, termasuk di institusi Polri. Ia memandang perubahan tersebut sebagai sinyal bahwa Prabowo ingin memastikan loyalitas dalam pemerintahan terpusat pada kepemimpinannya.
Bagi Yunarto, perbedaan tersebut menunjukkan bahwa Prabowo menjalankan pemerintahan berdasarkan karakter dan pandangannya sendiri, bukan meniru gaya kepemimpinan Jokowi.
“Prabowo just being consistent to become Prabowo. Yang salah adalah imajinasi Anda tentang Prabowo bahwa dia seakan-akan akan menjadi pemimpin seperti Jokowi. They are two different animals,” pungkasnya.
