
Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, menilai perubahan arah kebijakan pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berpotensi lebih besar dibandingkan perubahan yang mungkin terjadi jika Anies Baswedan terpilih sebagai presiden pada Pilpres sebelumnya.
Pandangan itu disampaikan Yunarto dalam siniar Total Politik yang tayang pada Rabu (7/10/2026). Menurut dia, pemerintahan Prabowo justru menunjukkan perubahan kebijakan yang signifikan, meski sebelumnya kerap dikaitkan dengan narasi keberlanjutan pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
“Fix ya, ini rezim perubahan dalam alam pikir. Bahkan saya meyakini perubahannya secara outcome akan lebih besar kalaupun Anies jadi presiden kemarin. Serius, artinya lebih perubahan daripada Anies,” ujar Yunarto.
Ia menjelaskan, Anies selama masa kampanye dikenal membawa narasi perubahan. Namun, menurut Yunarto, kebijakan yang dijalankan Prabowo memperlihatkan pergeseran mendasar dalam arah pemerintahan, terutama dalam pengalokasian anggaran negara.
Yunarto menilai salah satu indikator perubahan tersebut terlihat dari pengurangan alokasi anggaran infrastruktur dibandingkan dengan periode terakhir pemerintahan Jokowi. Di sisi lain, pemerintah Prabowo mengalokasikan anggaran besar untuk program prioritas, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Alokasi anggaran itu langsung sudah memperlihatkan ‘ini Prabowo banget’. Anggaran infrastruktur minus dibandingkan dengan zaman Jokowi terakhir. Ketika Pak Prabowo ingin MBG dan program populis lainnya jalan, menteri jungkir balik. Ujungnya potong dana transfer daerah, potong anggaran desa,” kata Yunarto.
Menurut dia, perubahan alokasi tersebut turut memunculkan keterkejutan di kalangan kepala daerah dan pelaku pasar. Yunarto juga mengaitkan pergeseran kebijakan dengan dinamika tingkat kepuasan publik pada bulan-bulan awal pemerintahan, meski ia tidak memaparkan angka dalam pernyataan tersebut.
Yunarto menegaskan, perubahan itu bukan berarti Prabowo meninggalkan pemikirannya sendiri. Ia menilai kebijakan yang dijalankan saat ini justru sejalan dengan gagasan yang telah lama disampaikan Prabowo dalam buku Paradoks Indonesia.
“Prabowo sangat komitmen dengan pemikirannya. Yang salah adalah imajinasi Anda tentang Prabowo, bahwa dia seakan-akan akan menjadi pemimpin yang continuity seperti Jokowi,” pungkas Yunarto.
