Sunday, October 11News That Matters

Pengamat Ungkap Dua Alasan Jokowi Tak Lagi Tegas soal Prabowo-Gibran Dua Periode


Wacana Berita, Jakarta –

Arah politik Joko Widodo terhadap kelanjutan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2029 mulai menjadi sorotan setelah mantan presiden itu tidak lagi secara tegas menyuarakan dukungan dua periode.

Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, M Jamiluddin Ritonga, menilai perubahan tersebut mungkin berkaitan dengan upaya menjaga posisi politik Gibran sekaligus membuka ruang bagi strategi lain menjelang pemilu mendatang.

Jamiluddin menduga Jokowi sedang mempertimbangkan situasi politik yang dihadapi putra sulungnya. Menurut dia, mempertahankan posisi Gibran sebagai wakil presiden bisa menjadi prioritas sebelum menentukan langkah politik untuk Pilpres 2029.

“Untuk itu, Jokowi tampaknya akan menggunakan sisa-sisa pengaruhnya untuk melobi para ketua umum partai untuk tidak memakzulkan Gibran. Termasuk tentunya Presiden Prabowo Subianto,” kata Jamiluddin kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (10/10/2026).

Ia melihat perubahan sikap Jokowi sebagai strategi untuk menjaga pilihan politik tetap terbuka. Alih-alih terus mendorong Prabowo-Gibran dua periode sejak sekarang, Jokowi diduga memilih menunggu perkembangan politik sebelum menentukan langkah berikutnya.

Jamiluddin menyebut ada dua kemungkinan yang dapat menjelaskan perubahan sikap tersebut. Kemungkinan pertama berkaitan dengan kondisi politik Gibran setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam perkara gugatan mengenai persyaratan pendidikan wakil presiden itu.

Menurut Jamiluddin, putusan tersebut berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap reputasi dan kredibilitas Gibran. Ia menilai kedua hal itu penting karena dapat menjadi modal politik bagi Gibran apabila ingin kembali berkontestasi dalam pemilihan presiden mendatang.

“Pascaputusan MK, reputasi dan kredibilitas Gibran sudah pada titik nadir, padahal itu adalah modal politik untuk berkontestasi pada pilpres mendatang,” ujar Jamiluddin.

Atas dasar penilaian tersebut, Jamiluddin menduga Jokowi kini lebih realistis dalam melihat peluang politik putranya. Ia menilai mempertahankan jabatan Gibran saat ini mungkin dianggap lebih mendesak dibandingkan membicarakan peluang untuk kembali mendampingi Prabowo pada 2029.

“Bisa saja Jokowi berpikir posisi politik Gibran sudah di ujung tanduk. Bagi Jokowi, jangankan dua periode, Gibran tidak dimakzulkan saja sudah bagus,” katanya.

Kemungkinan kedua, menurut Jamiluddin, berkaitan dengan kalkulasi Jokowi terhadap peluang Prabowo pada Pilpres 2029. Ia menduga Jokowi belum tentu ingin mengikat masa depan politik Gibran sepenuhnya pada pasangan yang sama apabila situasi politik menjelang pemilu mengalami perubahan.

Baca Juga: Jadi Cara Selamatkan Posisi Wapres Gibran, Jokowi Disarankan ‘Diam’ di Solo

Pernyataan Jokowi bahwa Pemilu 2029 masih jauh, dalam pembacaan Jamiluddin, dapat memberikan ruang untuk menentukan strategi yang lebih fleksibel. Dengan tidak secara tegas mengunci dukungan pada skema Prabowo-Gibran dua periode, Jokowi dinilai masih memiliki pilihan untuk mempertimbangkan posisi putranya pada kontestasi berikutnya.

Jamiluddin memperkirakan terdapat dua skenario yang mungkin dipertimbangkan. Apabila peluang politik Prabowo dinilai tetap kuat menjelang pemilu, Jokowi diperkirakan akan berupaya mempertahankan Gibran sebagai calon wakil presiden.

Sebaliknya, jika peluang Prabowo melemah, Jamiluddin menduga Jokowi bisa mempertimbangkan skenario Gibran maju sebagai calon presiden dengan mencari pasangan yang memiliki elektabilitas tinggi. Namun, kemungkinan tersebut masih berupa prediksi pengamat dan belum menjadi keputusan politik yang diumumkan Jokowi.

“Jadi, perubahan sikap itu tampaknya disengaja. Sebab dengan perubahan sikap itu Jokowi bisa lebih bebas menentukan Gibran menjadi capres atau tetap menjadi cawapres,” kata Jamiluddin.

Ia menegaskan bahwa arah politik Jokowi terhadap Prabowo-Gibran kemungkinan akan ditentukan oleh perkembangan situasi menjelang Pilpres 2029. Dalam pandangannya, tingkat keterpilihan Prabowo dan peluang Gibran akan menjadi dua pertimbangan yang memengaruhi strategi tersebut.

“Mana yang akan dipilih Jokowi bergantung keterpilihan Prabowo saat mendekati Pilpres 2029. Bila keterpilihan Prabowo masih tinggi, Jokowi akan tetap merapat. Sebaliknya, bila keterpilihan Prabowo rendah, Jokowi tampaknya akan meninggalkan Prabowo,” pungkas Jamiluddin.

Meski demikian, analisis tersebut merupakan prediksi Jamiluddin mengenai kemungkinan strategi politik Jokowi. Pernyataan bahwa Pemilu 2029 masih jauh belum dengan sendirinya membuktikan bahwa Jokowi telah menarik dukungan terhadap Prabowo maupun menetapkan skenario pencalonan lain bagi Gibran.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *