
PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) mengingatkan organisasi agar tidak terburu-buru mengadopsi kecerdasan artifisial (AI) tanpa menyiapkan tata kelola, keamanan siber, kompetensi sumber daya manusia (SDM), dan integrasi teknologi ke dalam sistem kerja.
President Director ITSEC Asia Patrick Dannacher mengatakan, keberhasilan adopsi AI tidak cukup diukur dari kecepatan implementasi. Organisasi juga perlu memastikan memiliki kemampuan untuk mengendalikan risiko yang muncul ketika teknologi tersebut digunakan dalam kegiatan operasional.
Patrick mengidentifikasi empat aspek yang perlu diperhatikan agar penerapan AI berjalan aman, yakni tata kelola, keamanan siber, keterampilan SDM, serta integrasi AI ke dalam sistem kerja organisasi.
“Jika Anda melupakan salah satu dari keempat hal tersebut, bencana tinggal menunggu waktu dan kita bahkan mungkin tidak tahu persis apa yang terjadi karena sistemnya sudah menjadi begitu rumit,” kata Patrick dalam konferensi pers AICX 2026 di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Menurutnya, penggunaan AI tanpa persiapan menyeluruh dapat memunculkan persoalan yang sulit dideteksi. Risiko tersebut semakin perlu diperhatikan ketika sistem berbasis AI menjadi lebih kompleks, sementara organisasi belum memiliki mekanisme pengawasan yang memadai.
Karena itu, pengamanan AI tidak dapat hanya mengandalkan tim teknologi atau keamanan siber. Patrick menilai pemerintah, regulator, pelaku industri, dan penyedia teknologi perlu terlibat dalam membangun ekosistem AI yang aman.
“Kita semua membutuhkan keterlibatan setiap pihak dalam proses yang sama, dengan motivasi yang sama, untuk menciptakan solusi adaptif yang dapat diterapkan di tingkat nasional, tingkat organisasi, hingga menyediakan solusi AI yang aman bagi setiap orang yang tinggal di Indonesia,” ujar Patrick.
Baca Juga: Pakai ChatGPT hingga Grok di Kantor? ITSEC Ingatkan Risiko Data Bocor
Baca Juga: Perang Bisnis AI Makin Ketat, AREA31 Gandeng Perusahaan Eropa Luncurkan AiPintar
Baca Juga: Meutya Tegaskan Indonesia Bukan Mau Perlambat AI Tapi Dorong Safety by Design
Di sisi lain, perkembangan AI yang cepat meningkatkan tekanan bagi pemerintah dan industri untuk menyiapkan langkah pengamanan. Pemerintah perlu merumuskan aturan yang relevan, sedangkan pelaku industri harus memastikan teknologi yang digunakan maupun disediakan memiliki perlindungan yang memadai.
“Tekanan untuk mengimplementasikan solusi-solusi ini sangat nyata. Tekanan bagi kami untuk menyediakan pengamanan di sekelilingnya sangat nyata. Tekanan bagi pemerintah untuk menerbitkan aturan dan regulasi pun sangat nyata,” kata Patrick.
Pernyataan tersebut menyoroti tantangan adopsi AI yang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknologi, tetapi juga kesiapan regulasi, organisasi, dan tenaga kerja.
