
Pengamat politik Adi Prayitno menanggapi perubahan sikap Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang kini menyebut Pemilu 2029 masih terlalu jauh.
Pernyataan tersebut disampaikan Jokowi saat kembali ditanya mengenai dukungannya terhadap keberlanjutan pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka untuk periode kedua.
Pergeseran nada bicara tersebut mencuri perhatian publik, lantaran Jokowi sebelumnya beberapa kali terang-terangan menyuarakan dukungan agar duet Prabowo-Gibran berlanjut pada Pilpres 2029.
Perubahan ini terjadi menyusul dinamika pasca-putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait pemeriksaan berkas syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran.
Menurut Adi Prayitno, ada dua faktor utama yang memicu perubahan arah pernyataan Jokowi tersebut dan nampak mulai lunglai. Yang pertama, peluang untuk menduetkan kembali Prabowo dan Gibran pada 2029 kian mengecil dan bahkan berpotensi tertutup.
“Kedua, respon partai koalisi, partai-partai politik anggota koalisi pendukung Prabowo dinilai mulai enggan atau tidak berminat kembali mengusung Gibran sebagai cawapres di Pilpres 2029,” kata Adi Prayitno, dikutip Jumat (9/10)/
“Bisa karena dua hal. Pertama karena peluang duet Prabowo-Gibran 2 periode sangat kecil, bahkan bisa tertutup. Kedua, partai koalisional pendukung Prabowo tak ada yang minat dengan Gibran sebagai cawapres Prabowo di 2029,” tambahnya.
Selain faktor dinamika elit dan internal koalisi, Adi menyoroti bahwa merosotnya peluang keberlanjutan duet ini juga sejalan dengan aspirasi masyarakat luas.
Ia merujuk pada temuan riset lembaga survei Parameter Politik yang mencatat penolakan signifikan dari mayoritas responden terhadap wacana Prabowo-Gibran dua periode.
“Peluang duet Prabowo-Gibran 2 periode kecil, bahkan menipis. Survei Parameter Politik di bulan Juli-Agustus mayoritas publik tak setuju duet ini 2 periode,” tegas Adi, menyebut angka ketidaksetujuan publik dalam survei tersebut mencapai 70 persen.
