Wednesday, October 7News That Matters

IHSG Lanjutkan Penguatan, Level 6.321 Jadi Penentu


Wacana Berita, Jakarta –

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Secara teknikal, IHSG menunjukkan tanda-tanda rebound setelah membentuk pola three advancing soldiers.

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta mengatakan IHSG saat ini berada dalam fase pemulihan. Kemunculan pola three advancing soldiers mengindikasikan adanya penguatan setelah sebelumnya mengalami tekanan.

“Wave (X)” juga dinilai mulai terlihat dalam pergerakan IHSG. Sinyal positif turut diperkuat oleh indikator Stochastics K_D dan Relative Strength Index (RSI), serta peningkatan volume perdagangan.

“Berdasarkan analisis teknikal tersebut, sentimen IHSG pada perdagangan hari ini cenderung positif. Level support IHSG berada di 6.180 dan 6.016. Sementara level resistance berada di 6.321 dan 6.384,” kata dia dalam riset hariannya.

Sentimen Global Mulai Mendukung

Dari pasar global, bilang dia, perhatian investor mulai bergeser dari kekhawatiran mengenai geopolitik dan suku bunga menuju prospek pertumbuhan laba emiten, terutama menjelang musim laporan keuangan kuartal III-2026.

Penurunan yield Treasury Amerika Serikat juga menjadi katalis positif bagi aset berisiko. Di sisi lain, stabilnya harga minyak dunia membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.

Sentimen pasar global juga tercermin dari indeks volatilitas CBOE atau VIX yang turun 3,29% ke level 15,01. Penurunan tersebut menunjukkan kondisi pasar yang relatif stabil dan tingkat kecemasan investor yang lebih rendah.

“Perhatian investor global pada Rabu juga akan tertuju pada publikasi FOMC Minutes. Dokumen tersebut akan menjadi salah satu penentu arah ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed,” jelas Nafan.

Jika isi minutes memberikan sinyal dovish, yield Treasury dan dolar AS berpotensi kembali tertekan sehingga dapat memberikan ruang lebih besar bagi aset berisiko untuk menguat. Sebaliknya, sinyal hawkish berpotensi memicu aksi ambil untung di pasar global.

Meski sentimen global cenderung mendukung, arus dana asing di pasar saham Indonesia masih menunjukkan tekanan.

Berdasarkan data yang digunakan dalam riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia, daily net foreign sell di IHSG tercatat sebesar Rp597,49 miliar. Sementara secara year to date (ytd), posisi net foreign sell mencapai Rp108,85 triliun.

Di sisi lain, kinerja IHSG secara ytd masih berada di zona negatif dengan penurunan sebesar 28,38%.

Baca Juga: IHSG Kembali Ngebut, Naik 1,21% ke Level 6.192

Baca Juga: IHSG Kembali Menguat, Naik 0,33% ke Level 6.139,13

Nafan menilai sentimen eksternal positif dapat menjadi katalis bagi IHSG, terutama untuk saham berkapitalisasi besar atau big caps dan sektor komoditas.

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada 28 Oktober 2026 juga terus menurun dan berada di level 19,4%. Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi tekanan terhadap risk appetite investor dan meningkatkan daya tarik aset pasar berkembang atau emerging markets.

Rupiah dan Data Ekonomi Jadi Perhatian

Dari dalam negeri, investor masih mencermati sejumlah data ekonomi yang dapat memengaruhi pergerakan arus modal asing dalam jangka pendek.

“Salah satunya adalah data cadangan devisa yang dirilis pada Rabu. Jika cadangan devisa tetap berada pada level kuat, kondisi tersebut dapat memperkuat kepercayaan pasar terhadap stabilitas rupiah,” ungkap Nafan.

Rupiah sendiri tercatat menguat 0,10% ke level Rp17.899 per dolar AS.

Selanjutnya, pasar akan menunggu rilis Indeks Keyakinan Konsumen pada Kamis (8/10/2026). Data tersebut menjadi salah satu indikator yang akan dicermati investor untuk melihat kondisi ekonomi domestik.

Selain itu, perhatian pasar mulai tertuju pada musim laporan keuangan kuartal III-2026. Memasuki kuartal IV, investor juga mulai mencermati fenomena October Effect, ketika secara historis periode Oktober kerap menjadi momentum bagi pelaku pasar untuk melakukan akumulasi saham tertentu menjelang publikasi kinerja keuangan.

Di tengah berbagai sentimen tersebut, Nafan menyarankan investor untuk tetap selektif dalam menentukan saham yang dikoleksi.

“Akumulasi saham dengan fundamental solid, neraca sehat, prospek pertumbuhan yang jelas, serta memiliki likuiditas perdagangan yang baik, dan gunakan manajemen risiko dengan disiplin,” tutup Nafan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *