
Pemerintah tengah mendorong Indonesia menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri data center di kawasan Asia Tenggara. Dengan potensi energi, wilayah yang luas, serta kebutuhan transformasi digital yang terus meningkat, pusat data dipandang sebagai infrastruktur penting bagi perkembangan ekonomi berbasis teknologi.
Namun, di balik derasnya investasi yang masuk, muncul tantangan baru yang tidak bisa diabaikan. Data center bukan hanya membutuhkan ruang fisik untuk menyimpan server, tetapi juga memerlukan pasokan listrik dalam jumlah besar dan sistem pendinginan yang bergantung pada ketersediaan air.
Pertanyaan besar pun muncul: apakah kesiapan infrastruktur energi dan sumber daya alam Indonesia mampu mengikuti percepatan pembangunan industri data center?
Indonesia Membuka Pintu Investasi Data Center
Industri data center menjadi salah satu sektor yang mendapat perhatian pemerintah dalam pengembangan ekonomi digital nasional. Pemerintah melihat sektor ini sebagai game changer baru yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai ekonomi digital global.
PT PLN (Persero) mencatat hingga saat ini telah menyalurkan energi kepada 159 perusahaan data center di Indonesia dengan kapasitas tersambung sebesar 2.038 mega volt ampere (MVA). Sementara itu, total konsumsi listrik sektor tersebut mencapai 2.378 gigawatt hour (GWh).
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan kondisi geografis serta keandalan sistem kelistrikan Indonesia menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk terus menarik investor data center global.
“Data center itu membutuhkan dua hal, yaitu listrik besar dan juga ketersediaan air. Jadi kita melihat pengembangan data center itu harus sesuai dengan potensi listrik dan ketersediaan air,” ujar Yuliot di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Pemerintah bahkan secara terbuka menawarkan potensi wilayah Indonesia kepada investor global. Menteri ESDM yang juga menjabat Menteri Koordinator Bidang Transisi Energi dan Hilirisasi, Bahlil Lahadalia, mengajak investor memanfaatkan wilayah Indonesia untuk pembangunan data center.
Baca Juga: Ambisi Data Center di Antariksa, Google Hitung Butuh 1.800 Peluncuran Starship
“Bapak-Ibu semua tidak perlu ragu, para investor, kalau membangun data center di Indonesia. Wilayah kami ini terbesar di kawasan Asia Tenggara. Pulau kami masih terlalu banyak. Energi tidak hanya dari matahari, tetapi juga ada dari air, panas bumi, angin, dan macam-macam sekali,” ujar Bahlil dalam acara MKI Electricity Connect 2026 di ICE BSD Tangerang, Selasa (22/9/2026).
Ketika Data Center Membutuhkan Energi Besar
Pertumbuhan industri data center tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan listrik yang terus meningkat. Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), komputasi awan (cloud computing), dan digitalisasi membuat kebutuhan pusat data diperkirakan terus bertambah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan kebutuhan energi Indonesia pada 2030 dapat mencapai 700–800 terawatt hour (TWh).
Jumlah tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan konsumsi listrik nasional saat ini yang dicatat PLN sebesar 317 TWh.
