
Industri pertambangan nikel Indonesia mulai melihat elektrifikasi sebagai salah satu opsi untuk meningkatkan efisiensi operasional. Langkah tersebut dinilai relevan ketika industri menghadapi kebutuhan menekan konsumsi energi dan biaya produksi di tengah penurunan kadar bijih.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Rizal Kasli mengatakan efisiensi energi menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam kegiatan pertambangan dan pengolahan nikel.
“Untuk energi ini sekarang perlu dikendalikan sehingga kita bisa lebih banyak menghemat energi yang digunakan untuk produksi,” kata Rizal dalam T50 Summit Indonesia Forum 2026 di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Menurut Rizal, efisiensi energi perlu dihitung berdasarkan biaya yang dikeluarkan untuk setiap ton material yang ditangani. Karena itu, penggunaan peralatan dan kendaraan operasional, konsumsi bahan bakar, waktu siklus, hingga kondisi jalan tambang menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Selain mengoptimalkan penggunaan peralatan yang sudah ada, elektrifikasi juga mulai dilihat sebagai salah satu pilihan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus keberlanjutan kegiatan pertambangan.
“Skala keberlanjutan yang perlu dilakukan adalah mungkin melalui elektrifikasi operasional, apakah alat berat maupun kendaraan,” ujarnya.
Elektrifikasi tersebut tidak serta-merta berarti seluruh kegiatan pertambangan nikel telah beralih menggunakan peralatan listrik. Penerapannya masih menjadi peluang pengembangan dan perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kegiatan tambang.
Kesiapan infrastruktur, kebutuhan energi, karakteristik medan tambang, hingga investasi peralatan menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhitungkan sebelum elektrifikasi diterapkan secara lebih luas.
Baca Juga: Produksi Nikel Indonesia Dipangkas 120 Juta Ton pada 2026, Ini Penyebabnya
Baca Juga: Bijih Nikel RI Makin Rendah Kadarnya, Industri Smelter Hadapi Tantangan
Baca Juga: Aturan HPM Nikel Berubah, APNI Ingatkan Isu Keberlanjutan Tambang dan PNBP
Bagi industri nikel, kebutuhan efisiensi semakin penting ketika kadar bijih yang ditambang cenderung menurun. Rizal sebelumnya memaparkan kadar bijih saprolit yang sebelumnya berada di kisaran 1,8% kini turun menjadi sekitar 1,6%. Sementara itu, kadar limonit berada di kisaran 1,2% atau bahkan di bawahnya.
Penurunan kadar tersebut membuat perusahaan perlu menangani lebih banyak material untuk memperoleh hasil produksi yang sama. Konsekuensinya, biaya bahan bakar, energi, transportasi, produktivitas alat, hingga waktu operasional menjadi semakin menentukan biaya produksi per ton material.
Dalam kondisi tersebut, elektrifikasi dapat menjadi salah satu opsi untuk menekan konsumsi energi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. Namun, penerapannya tetap bergantung pada kesiapan teknologi, infrastruktur pendukung, karakteristik tambang, dan perhitungan keekonomian masing-masing perusahaan.
