
Bursa Mineral dan Komiditas Strategis (BMKS) atau Indonesia Commodity Exchange (Icomex) dinilai dapat menjadi instrumen penting dalam pengembangan perdagangan mineral di Indonesia. Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur dan kepercayaan pelaku pasar.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Rizal Kasli mengatakan Indonesia memiliki posisi penting sebagai salah satu penghasil mineral strategis dunia, mulai dari nikel, timah, aluminium, emas, hingga tembaga.
Menurut dia, komoditas tersebut memiliki peran penting dalam kebutuhan industri, termasuk mendukung proses transisi energi.
“Ini kan benar-benar mineral yang memang sangat diperlukan dan kritis. Mineral yang tidak ada, yang namanya transisi energi itu tidak akan terjadi,” kata Rizal, Senin (21/9/2026).
Karena itu, menurut Rizal, upaya pemerintah membangun mekanisme perdagangan mineral melalui BMKS pada dasarnya merupakan langkah yang baik. Kehadiran bursa mineral juga dapat membantu pemerintah dalam mengembangkan mekanisme pembentukan dan pengawasan harga komoditas.
Meski demikian, Rizal mengingatkan bahwa keberhasilan sistem tersebut tidak hanya ditentukan oleh aturan yang dibuat. Infrastruktur perdagangan dan kepercayaan pelaku pasar menjadi faktor yang tidak kalah penting.
“Keberhasilannya tergantung dari infrastruktur yang akan muncul dan kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Salah satu hal yang menjadi perhatian APNI adalah transparansi dalam perdagangan. Rizal berharap aktivitas perdagangan mineral melalui bursa dapat berjalan dengan sistem yang terbuka dan tidak dibebani kepentingan di luar mekanisme perdagangan.
“Transparansinya harus dibuka. Jangan banyak isu politik misalnya. Nanti akan bahaya, nggak berhasil,” kata dia.
Selain transparansi, Rizal menilai perlu ada mekanisme yang memastikan komoditas yang diperdagangkan benar-benar tersedia. Artinya, transaksi di bursa tidak hanya berlangsung secara administratif, tetapi didukung keberadaan barang yang jelas dan dapat diverifikasi.
“Kalau orang membeli ada barangnya. Jangan sampai orang beli barang, barangnya nggak ada,” ujarnya.
Baca Juga: OJK: Bursa Mineral Wajib Punya Modal Disetor Minimal Rp1 Triliun
Baca Juga: Prabowo Siapkan Bursa Mineral 2027, Ekspor Komoditas Akan Lewat Satu Pintu
Baca Juga: OJK Terbitkan Dua POJK, Pengawasan Bursa Mineral Beralih Mulai Januari 2027
Ia mencontohkan mekanisme perdagangan komoditas di bursa internasional yang memiliki sistem pencatatan dan informasi mengenai stok. Menurutnya, aspek tersebut perlu diperhatikan dalam pengembangan bursa mineral Indonesia.
Rizal juga menyoroti kesiapan infrastruktur digital. Dengan semakin banyaknya transaksi perdagangan dan investasi yang dilakukan secara daring, sistem Icomex perlu diuji secara matang sebelum digunakan secara luas.
“Jadi harus memastikan infrastrukturnya sudah dites dengan baik dan berjalan dengan mulus, hindari kegagalan,” tuturnya.
Selain sistem, pengelola bursa juga menjadi perhatian. Rizal berharap Icomex dijalankan oleh orang-orang yang memiliki kompetensi dan integritas serta tidak memiliki konflik kepentingan.
“Dikelola oleh orang-orang yang memang profesional, berintegritas, nggak ada conflict of interest. Itu yang kita harapkan,” katanya.
