Monday, September 21News That Matters

ARTSUBS 2026 Pamerkan Karya Nyoman Nuarta dan Kanvas Robek


ARTSUBS 2026 menghadirkan lebih dari 120 seniman dalam pameran seni rupa kontemporer yang berlangsung selama hampir tujuh minggu, 19 September hingga 8 November 2026, di kompleks Alun-alun Kota Surabaya, Balai Pemuda. Memasuki tahun ketiga, pameran ini mengangkat tema “Border, Threshold, and Beyond” untuk menelusuri cara seniman mempertahankan, mengolah, hingga melampaui batas medium dan praktik seni.

Kurator ARTSUBS, Asmudjo Jono Irianto, mengatakan tema tersebut tidak hanya berbicara tentang peralihan dari lukisan ke medium lain. Tema itu juga mencakup perubahan karya dua dimensi menjadi objek tiga dimensi, persilangan antara seni rupa dan disiplin lain, serta penggunaan teknologi digital, new media, dan kecerdasan buatan.

Dari kanvas yang “dirobek” hingga karya kinetik

Eksplorasi medium terlihat dalam karya Taufik Ermas, perupa lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Melalui pendekatan modified canvas, Taufik menghadirkan karya yang secara visual tampak seperti merobek bidang kanvas. Karya “Morphing Alibis, Rhetoric of The Endless Argument”, “The Teathere of South”, serta enam karya berukuran 50 x 50 sentimeter bertajuk “Armchair Philosopher” memperlakukan kanvas bukan lagi sebagai bidang datar semata.

Praktik Taufik mencakup shaped canvas, permukaan bergelombang, cut-out painting, dan struktur kanvas yang keluar dari format konvensional. Lapisan transparan, tekstur timbul, serta perubahan struktur bidang digunakan untuk mengeksplorasi memori, persepsi, dan kondisi keberadaan yang terus berubah. Taufik tercatat pernah menjadi finalis The Sovereign Asian Art Prize di Hong Kong pada 2020, Indonesia Art Awards pada 2010, dan Artmosphere Academic Art Awards pada 2007. Ia juga pernah mengikuti residensi di GloART, Belgia, serta NuArt Sculpture Park, Bandung.

Karya Nyoman Nuarta turut menjadi perhatian melalui replika desain Gedung IKN, Borobudur melayang, dan burung merak. Seniman sekaligus arsitek itu dikenal mengeksplorasi teknik oksidasi perunggu. Sementara itu, Bagas Karunia Putra atau Bagas KP mempertemukan gerak dan bunyi melalui karya kinetik “Masuk Telinga Kanan Keluar Telinga Kiri” dan “Tanjakan”. Pengunjung tidak hanya mengamati bentuk, tetapi juga mengikuti mekanisme gerak dan suara yang dihasilkan karya.

Nuansa berbeda hadir melalui pendekatan botanical paint. Karya “Before The Seed” dan “The Art of Becoming” oleh Dufeta Devy, “The Eternal Beauty” karya Prima Milawati, “Pocket Flora: Orchids of Java” karya Rio Ananta Prima, serta “Nyanyian Sunyi” karya Diandra R. Amelia menampilkan detail anatomi tumbuhan. Sejak pintu masuk, pengunjung disambut “A Garden Alice Forgot” karya Gabriela Eva berukuran 260 x 170 sentimeter.

Museum Portabel dan ruang pertemuan seni

Salah satu proyek utama pameran ini adalah Museum Portabel yang dikerjakan secara kolaboratif oleh kelompok Kantor Bersama Urusan Seni Rupa (KBUSR). Proyek tersebut melibatkan tujuh seniman dan kurator. Asmudjo menyebutnya sebagai ironi sekaligus parodi atas keterbatasan keberadaan museum seni rupa di Indonesia, khususnya Surabaya. “Di Surabaya kan tidak ada museum seni rupa,” ujarnya.

Selain Museum Portabel, ARTSUBS menghadirkan kelompok fotografer Matanesia serta proyek kolaborasi seniman keramik dan pengrajin. Pameran dibagi ke dalam lima zona: aula utama, selasar, area tenda, ruang Matanesia, dan basement. Area Annex berfungsi sebagai penghubung antarruang.

Asmudjo menegaskan ARTSUBS tidak dirancang semata-mata untuk merepresentasikan seni rupa Surabaya. Pameran ini berupaya menghadirkan keragaman seni rupa kontemporer Indonesia, terutama dari Jawa dan Bali, serta melibatkan seniman dari wilayah lain dan seniman asing yang tinggal di Indonesia. Pemilihan peserta mempertimbangkan reputasi, kualitas karya, dan potensi praktik artistik, sementara seniman dari Surabaya, Malang, dan daerah lain di Jawa Timur tetap memperoleh ruang.

Kesempatan juga dibuka bagi seniman muda melalui open call. “ARTSUBS juga membuka kesempatan bagi seniman muda melalui mekanisme open call. Pada penyelenggaraan tahun ini terdapat sekitar 11 seniman yang terpilih melalui jalur tersebut,” kata Asmudjo.

Penyelenggaraan di Surabaya menghadirkan tantangan infrastruktur karena lokasi pameran bukan gedung yang secara khusus dirancang sebagai ruang seni. Sebagai inisiatif swasta dengan dukungan Pemerintah Kota Surabaya, penyelenggara harus menyiapkan panel, tata ruang, logistik, serta pengiriman dan pemasangan karya. Pada dua penyelenggaraan sebelumnya, jumlah pengunjung masing-masing tercatat lebih dari 25.000 orang, meski pameran kedua ditutup lebih awal akibat situasi saat itu. Tahun ini, durasi pameran yang lebih panjang diharapkan kembali mempertemukan publik Surabaya dengan seni rupa kontemporer.

Source link



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *