
Pengamat politik Rocky Gerung mengkritik kualitas diskursus publik dan gerakan masyarakat sipil yang berkembang belakangan ini. Ia menilai kritik terhadap kekuasaan saat ini kerap kehilangan arah sehingga ruang publik berubah menjadi sekadar hiruk-pikuk tanpa gagasan yang kuat.
Pernyataan tersebut disampaikan Rocky dalam bincang-bincang di kanal YouTube Total Politik yang tayang pada 17 September 2026.
Rocky menggambarkan situasi tersebut sebagai kondisi ketika berbagai kelompok sama-sama menyampaikan kemarahan, tetapi tidak memiliki tujuan yang jelas. Ia menyebut keadaan itu sebagai “kakofoni” atau kebisingan yang muncul akibat semua pihak berlomba menyampaikan suara masing-masing.
“Semua marah pada semua. Kemarahan memang tidak perlu diorkestrasi, semua ingin didengar. Semua berlomba sahut-sahutan. Hasilnya adalah kakofoni. Sekadar hiruk pikuk, marah kepada segala arah, artinya marah tanpa arah,” ujar Rocky.
Menurut Rocky, fenomena tersebut dapat dilihat dalam berbagai medium, mulai dari talk show hingga podcast. Ia menilai banyak perbincangan dipenuhi sentimen dan kemarahan, tetapi tidak diikuti dengan argumentasi yang memadai.
“Argumen tumpul, sentimen tajam. Sentimen pro kekuasaan tanpa dasar, anti kekuasaan tanpa ide. Dua pihak berhadap-hadapan seolah-olah sedang bertempur demi sesuatu yang belum dan memang belum ada,” katanya.
Rocky juga menyoroti gagasan “Kabinet Bayangan” yang muncul dari sebagian elemen masyarakat sipil sebagai bentuk oposisi terhadap pemerintahan.
Alih-alih melihatnya sebagai bentuk terobosan politik, Rocky menilai gagasan tersebut masih berada dalam pola oposisi yang sekadar mengawasi dan mengoreksi kekuasaan. Menurut dia, oposisi seharusnya menawarkan perubahan yang lebih mendasar.
“Kabinet bayangan itu mungkin dianggap sebagai monumen dari masyarakat sipil sekarang. Tapi termasuk intensi psikologinya, artinya dia pro kekuasaan karena dia hanya mau mengoreksi kabinet. Padahal fungsi dari oposisi adalah melakukan perubahan. Perubahan hanya bisa dilakukan dengan melampaui, bukan sekadar membayang-bayangi,” ujar Rocky.
Baca Juga: Mayor Teddy Sempat Dianggap Tak Sopan Sela Prabowo, Kini Justru Dinilai Menerobos Feodalisme
Ia menilai gerakan oposisi saat ini belum memiliki gagasan yang cukup kuat untuk menawarkan perubahan struktural. Menurut Rocky, kritik terhadap kekuasaan tidak cukup jika hanya berorientasi memperbaiki kebijakan atau tata kelola yang sudah ada.
“Anti kekuasaan tanpa ide, itu yang terjadi. Mereka hanya ingin memperbaiki rumah yang sudah usang, sementara saya menginginkan rumah baru,” pungkasnya.
