Wednesday, September 16News That Matters

Waduk Saguling Menyusut, Warga Sulap Dasar Danau Jadi Ladang Cabai


KORAN MANDALA – Kekeringan yang membuat debit Waduk Saguling menyusut sejak Juni 2026 justru dimanfaatkan warga Desa Bojonghaleuang, Kabupaten Bandung Barat, untuk membuka lahan pertanian baru.

Di atas lahan surutan yang sebelumnya terendam air, warga menanam berbagai komoditas pangan dan sayuran.

Tomat, cabai, pakcoy, jagung hingga timun kini tumbuh di bekas dasar waduk.

Bagi warga, surutnya air bukan sekadar perubahan kondisi waduk. Lahan yang terbuka menjadi kesempatan untuk menghasilkan pangan sekaligus menambah pendapatan keluarga di tengah musim kemarau.

Harga Pangan Naik, Warga Bandung Pilih Lauk Sederhana

Pemilihan tanaman pun tidak dilakukan sembarangan. Warga cenderung memilih komoditas yang memiliki masa tanam relatif singkat dan nilai jual yang cukup baik. Cabai menjadi salah satu tanaman yang paling banyak dipilih.

“Warga di sini menanam sayuran, seperti tomat, cabai, pakcoy, jagung, timun. Kalau kebanyakan di sini menanam cabai, agar cepat dan ada harganya,” ujar Sumana.

Namun, mengubah dasar waduk menjadi lahan pertanian bukan perkara mudah. Di tengah kemarau, para petani justru menghadapi persoalan klasik: air.

Meski tanah bekas dasar waduk dinilai cukup subur, tanaman tetap membutuhkan pasokan air setiap hari. Warga pun harus mencari sumber air yang masih tersisa di sekitar kawasan waduk.

Salah satu cara yang dilakukan adalah memanfaatkan air dari selokan dan anak sungai yang masih mengalir. Air tersebut kemudian disedot menggunakan mesin pompa untuk mengairi tanaman.

“Untuk menyirami tanaman, dari selokan-selokan itu disedot menggunakan mesin,” kata Sumana.

Tantangan lainnya adalah waktu. Warga tidak bisa bebas menentukan kapan menanam dan kapan memanen. Mereka harus berpacu dengan siklus Waduk Saguling.

Jika air kembali naik sebelum tanaman dipanen, lahan pertanian yang kini menjadi sumber penghidupan itu bisa kembali tenggelam.

“Biasanya di bulan tiga atau bulan empat, air mulai naik lagi,” ujar Sumana.

Karena itu, para petani harus memperhitungkan usia tanaman sejak awal. Komoditas dengan masa panen lebih cepat menjadi pilihan agar hasil pertanian bisa dipanen sebelum lahan kembali terendam.

Kondisi tersebut membuat lahan surutan Waduk Saguling menjadi ladang sementara yang berpacu dengan waktu.

Warga memanfaatkan setiap jengkal tanah yang muncul, tetapi di saat bersamaan mereka sadar bahwa lahan itu sewaktu-waktu akan kembali menjadi bagian dari waduk.

Di tengah ancaman kekeringan, kreativitas warga Bojonghaleuang menunjukkan bagaimana perubahan kondisi alam dapat dimanfaatkan untuk menopang kebutuhan pangan dan ekonomi keluarga.

Namun, keuntungan tersebut tetap dibayangi ketidakpastian. Begitu debit Waduk Saguling kembali meningkat, lahan pertanian akan hilang ditelan air dan warga harus kembali menunggu hingga permukaan waduk surut.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *