
WACANA BERITA – Berita datang tiap hari layaknya ‘setoran’ ke meja redaksi. Ada yang sudah terbungkus rapi, tinggal pakai, diantaranya ada yang masih perlu disaring, karena kadang berbau promosi.
Setiap pagi, di ruang redaksi media mana pun, dua aliran dokumen ini membanjiri inbox. Yang pertama: Wire News atau berita kabel. Yang kedua: press release atau siaran pers.
Keduanya adalah “makanan pokok” jurnalisme sehari-hari, terutama bagi media yang tidak punya cukup wartawan untuk meliput semuanya.
Kunjungan Website Turun Hingga 60 Persen, Era ‘Tanpa Klik’ Dimulai
Tapi keduanya memiliki nasib yang berbeda—dan di era kecerdasan buatan (AI) yang mulai bisa membaca, merangkum, bahkan menulis ulang, keduanya terancam.
Dengan datangnya tamu baru bernama AI. Redaksi mulai bertanya: masih perlukah kita menyajikan kedua jenis “setoran” berita ini?
Pertanyaannya: apakah kedua jenis berita ini akan terancam punah? Atau justru berubah bentuk?
Berita Kabel (News Wire): Kain Jadi dari Pabrik Informasi
Istilah berita kabel ini muncul pada awalnya mengacu pada berita yang dikirim melalui telegraph/kabel dari kantor berita untuk disebarkan ke pelanggan. Dahulu, penggunaan telekomunikasi dengan kabel menjadi andalan sebelum evolusi telekomunikasi menjadi canggih seperti sekarang
Berita kabel lahir dari jaringan media besar, agen-agen berita besar dengan reputasi tinggi seperti Reuters, Associated Press, AFP, atau di Indonesia: Antara. Berita kabel biasanya dibuat oleh wartawan profesional dan sudah ter verifikasi fakta dan kejadiannya.
Mereka punya wartawan di berbagai daerah, bahkan dunia. Mereka mengirimkan berita mentah namun sudah ter verifikasi ke media pelanggan – yang kemudian tinggal “menjahit” sedikit (mengganti judul, menambah paragraf pembuka) lalu terbit.
Dulu, ini solusi cerdas. Media kecil bisa tetap update tanpa harus punya koresponden di New York atau Tokyo. Cukup bayar langganan, berita dunia pun mengalir.
Ciri khas berita kabel: Ditulis dengan bahasa standar, cenderung datar. Sudah melalui proses verifikasi minimal oleh jurnalis agensi. Netral, tidak memihak. Biasanya pendek, 300–500 kata. Isinya: fakta, angka, kutipan dari pejabat atau saksi.
Berita Rilis: Kain Punya Pelanggan yang Ingin Dipromosikan
Pers rilis (Press release) berbeda. Ia ditulis oleh humas perusahaan, instansi pemerintah, atau tim komunikasi organisasi. Tujuannya: menyampaikan informasi yang menguntungkan pihak pengirim.
Bisa berupa peluncuran produk, capaian proyek, pernyataan sikap, atau sekadar “kami mengadakan acara”.
Rilis tidak melalui verifikasi. Media yang menerimanya harus bertanya: ini fakta atau klaim? Ini berita atau iklan?
Ciri khas rilis: Bahasa promosi, banyak kata sifat positif (“unggul”, “terbaik”, “inovatif”). Sering menyembunyikan kelemahan atau kontroversi.
Ditulis untuk kepentingan pengirim, bukan publik. Gratis dan dikirim ke ribuan media sekaligus.
Di Ruang Redaksi: Dua Perlakuan Berbeda
Di media yang sehat, berita kabel dan rilis diperlakukan tidak sama.
Karena agensi berita seperti Antara atau Reuters punya reputasi, redaksi percaya pada faktanya.
Berita kabel dari agensi berita cenderung langsung dipakai; dengan catatan diedit sedikit, dikontekstualisasi untuk pembaca lokal, atau digabung dengan sumber lain.
Sedangkan, press rilis harus melalui saringan ketat. Wartawan akan mengecek: apakah klaimnya benar? Apakah ada pihak lain yang dirugikan? Apakah ini hanya pencitraan?
Jika tidak ada nilai tambah, rilis biasanya langsung masuk keranjang sampah – atau paling banter dipublikasikan di rubrik “Info Perusahaan” yang sepi pembaca.
Lalu, Mengapa Keduanya Terancam oleh AI?
Karena AI bisa melakukan apa yang selama ini dilakukan media kecil terhadap kedua jenis teks itu, bahkan lebih cepat dan lebih murah.
Untuk berita kabel:
AI bisa membaca berita Antara atau Reuters secara bersamaan, lalu merangkumnya dalam dua kalimat langsung di hasil pencarian. Pengguna tidak perlu lagi membuka portal berita yang hanya menyalin berita kabel tersebut.
Yang tersisa hanyalah media yang menambahkan sesuatu: wawancara dengan narasumber lokal, analisis dampak di kota mereka, atau data eksklusif yang tidak ada di jaringan berita kabel.
Untuk press release:
AI sudah cukup pintar mendeteksi bahasa promosi. Jika sebuah “berita” ternyata hanya salinan pers rilis, nyaris sama dengan media lain, sistem pencarian akan menurunkan peringkat website nya.
Pembaca juga mulai malas. Mereka lebih percaya ringkasan AI yang menyaring klaim-klaim bombastis, daripada membaca rilis di website di mana itu dimuat.
Bahkan beberapa ruang redaksi sudah mulai menggunakan AI untuk memfilter rilis: mana yang layak ditindaklanjuti, mana yang hanya sampah promosi.
Ironisnya, pekerjaan yang dulu dilakukan oleh manusia (magang atau redaktur junior) kini bisa dilakukan algoritma.
Yang Selamat: Bukan Sekadar Penyalin, Tapi Pemberi Makna
Dari laporan diskusi dan pengamatan beberapa perusahaan media daring, para redaksi membutuhkan setidaknya ada dua strategi untuk bertahan:
Untuk berita kabel: Jangan hanya terbitkan apa adanya. Tambahkan “lapisan kedua”.
Misalnya: dari kabel Antara tentang kenaikan harga bawang, wartawan turun ke pasar tradisional untuk mewawancarai pedagang. Atau menghubungi pengamat pertanian.
Konten berita kabel menjadi trigger, bukan produk akhir.
Untuk press rilis: Jangan diterbitkan mentah. Konversi rilis menjadi berita investigatif. Contoh: sebuah perusahaan rilis “laba bersih naik 200%”.
Wartawan lalu menggali: dari mana kenaikan itu? Apakah ada PHK? Apakah utang juga naik?
Rilis menjadi pintu masuk, bukan tujuan.
Mati Satu Tumbuh Seribu
Berita kabel dan press release tidak akan mati sebagai sumber. Tapi mereka akan mati sebagai konten final yang diterbitkan tanpa sentuhan manusia.
Karena AI mampu menyalin, merangkum, bahkan menulis ulang.
Tapi AI tidak bisa melakukan wawancara mendalam, tidak bisa merasakan denyut pasar tradisional, tak bisa melihat keringat para penjaja sayuran, tidak bisa membangun kepercayaan dengan narasumber.
Maka nasib kedua jenis “setoran” ini ada di tangan redaksi: jika hanya menjadi penyalin, selamat tinggal, jika menjadi pemakna, selamat datang kembali ke era jurnalisme yang sebenarnya. Selamat datang di jurnalisme era AI.***
*) Penulis adalah praktisi IT dan pemerhati media digital.
