Monday, September 21News That Matters

Harga Plastik Naik, Pengamat Soroti Ketergantungan Impor dan Dorong Solusi Ramah Lingkungan


WACANA BERITA – Harga plastik di Indonesia mengalami lonjakan signifikan pada April 2026, Kondisi ini dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku impor, khususnya nafta dari kawasan Timur Tengah, yang terdampak konflik geopolitik.

Kenaikan tersebut mulai dirasakan oleh berbagai pelaku usaha, terutama sektor makanan dan kemasan. Sejumlah pedagang kecil hingga pelaku UMKM mengaku kesulitan menyesuaikan harga jual di tengah meningkatnya biaya produksi.

Pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, menilai lonjakan harga ini tidak lepas dari ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor serta tingginya biaya energi dalam industri petrokimia.

“Plastik itu kan bahan bakunya sebagian impor. Kemudian produksinya juga menggunakan energi yang tidak sedikit, karena bagian dari industri petrokimia,” ujar Acuviarta

Ia menjelaskan, ketergantungan terhadap impor, terutama dari Tiongkok, membuat harga plastik domestik sangat rentan terhadap gangguan rantai pasok global.

“Kita tahu ada gangguan rantai pasok, kemudian ada kenaikan harga di tingkat produksi dan impor. Ditambah lagi ekspektasi kenaikan harga energi, itu semua mendorong harga plastik menjadi lebih mahal,” jelasnya.

Meski demikian, Acuviarta melihat kondisi ini juga membuka peluang baru, khususnya dalam pengembangan produk alternatif yang lebih ramah lingkungan.

“Ini seharusnya bisa mendorong penggunaan produk ramah lingkungan dan daur ulang. Itu justru bisa memunculkan pertumbuhan ekonomi baru,” katanya.

Ia menambahkan, tren global saat ini mulai beralih ke penggunaan bahan non-plastik. Bahkan di beberapa negara, masyarakat mulai meninggalkan produk berbahan plastik dalam kehidupan sehari-hari.

“Di luar negeri, orang sudah tidak mau pakai sapu plastik. Mereka lebih memilih sapu dari bahan alami seperti injuk, karena lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan bahan alami sebagai alternatif plastik, seperti injuk, pelepah pinang, hingga daun pisang yang dapat dimanfaatkan sebagai kemasan ramah lingkungan.

“Pelepah pinang bisa dicetak jadi piring yang bagus. Atau daun pisang yang diproses, itu jauh lebih ramah lingkungan,” katanya.

Ia juga menyoroti masih tingginya penggunaan plastik sekali pakai di masyarakat, mulai dari sedotan hingga kemasan makanan, yang perlu dikurangi secara bertahap.

Sebagai solusi, Acuviarta mendorong perubahan perilaku konsumen, salah satunya dengan membawa wadah sendiri saat membeli makanan.

“Bisa juga kita kampanyekan, kalau beli makanan bawa tempat sendiri. Itu membangun kesadaran dari awal,” ujarnya.

Ke depan, ia optimistis momentum kenaikan harga plastik ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat industri berbasis bahan alami sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *