
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp45,5 triliun hingga September 2026. Angka tersebut melonjak 20,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ditopang pertumbuhan kredit, peningkatan transaksi digital, dan produktivitas yang semakin baik.
Direktur Keuangan Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini mengatakan pencapaian tersebut mencerminkan kinerja perseroan yang semakin solid di tengah dinamika ekonomi global. Meski demikian, bank pelat merah ini tetap mengutamakan kualitas aset dan keberlanjutan pertumbuhan bisnis.
“Dalam kinerja keuangan Bank Mandiri yang semakin solid, hingga September 2026, laba bersih konsolidasi mencapai Rp45,5 triliun, tumbuh 20,7% secara tahunan. Pencapaian ini didukung oleh pertumbuhan kredit yang sehat, peningkatan transaksi digital, serta produktivitas yang terus membaik,” ujar Novita dalam paparan kinerja Bank Mandiri secara daring, Jumat (23/10/2026).
Novita menegaskan, Bank Mandiri tidak hanya berfokus meningkatkan laba, tetapi juga menjaga agar pertumbuhan bisnis dapat berlangsung secara berkelanjutan. Perseroan juga berupaya memberikan keuntungan bagi pemegang saham melalui pembagian dividen.
Sepanjang 2026, Bank Mandiri telah membagikan dividen dengan total Rp50,6 triliun.
“Kinerja yang kuat tersebut juga dapat kami wujudkan melalui komitmen untuk terus memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham. Sepanjang tahun 2026 Bank Mandiri telah membagikan dividen sebesar Rp50,6 triliun,” katanya.
Dari sisi penyaluran kredit, Bank Mandiri secara individual atau bank only mencatat pertumbuhan sebesar 16% secara tahunan menjadi Rp1.606 triliun hingga September 2026. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang mencapai 11,6%.
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh lebih cepat, yakni 17,7% secara tahunan. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan DPK pada September 2025 sebesar 12,3%.
Meski demikian, Bank Mandiri tetap mencermati kondisi likuiditas. Rasio kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) berdasarkan rata-rata harian naik dari 93,6% pada kuartal III-2025 menjadi 94,8% pada kuartal III-2026. Sementara itu, LDR pada akhir September 2026 tercatat sebesar 91%.
Kondisi tersebut membuat penguatan sumber pendanaan tetap menjadi prioritas perseroan.
“Ke depan, penguatan dana pihak ketiga tetap menjadi prioritas utama kami, mengingat kondisi likuiditas yang masih cukup menantang,” jelas Novita.
Untuk memperkuat pendanaan, Bank Mandiri terus memperluas basis nasabah dan meningkatkan aktivitas transaksi melalui layanan digital. Aplikasi Livin’ by Mandiri mencatat rata-rata penambahan sekitar 20.000 pengguna baru setiap hari. Sementara itu, jumlah pengguna aktif tumbuh sekitar 13% secara tahunan hingga September 2026.
Kredit Bermasalah Turun, Penyaluran Kredit Terus Meluas
Di tengah ekspansi kredit, kualitas aset Bank Mandiri juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) turun dari 1,03% menjadi 0,98% pada September 2026.
Berdasarkan ekosistem bisnis, penyaluran kredit kepada sektor pemerintahan dan badan usaha milik negara (BUMN) tumbuh 23,8% secara tahunan menjadi Rp473 triliun. Adapun kredit pada ekosistem bisnis penopang ekonomi meningkat 18,5% menjadi Rp910 triliun.
Bank Mandiri juga memperluas pembiayaan bagi usaha mikro. Hingga September 2026, kredit usaha mikro tumbuh 12,9% secara tahunan menjadi Rp31,2 triliun, dengan jangkauan pembiayaan di 37 provinsi.
Baca Juga: PT Timah Raih Fasilitas Kredit Talangan DHE-SDA Senilai Rp4 Triliun dari Bank Mandiri
Baca Juga: Laba Bersih Bank Mandiri Tembus Rp37,5 Triliun Per Agustus 2026
Baca Juga: Heboh Kredit Bank Mandiri untuk Akuisisi Saham BYAN oleh Haji Isam, Ini Kata BEI
Ekspansi tersebut tetap dibarengi dengan upaya menjaga kualitas kredit. Rasio NPL pada ekosistem pemerintahan dan BUMN tercatat sebesar 0,15%, sedangkan NPL pada ekosistem bisnis penopang ekonomi berada di level 0,47%.
Meski kinerja bisnis tumbuh positif, Bank Mandiri tetap mewaspadai berbagai risiko eksternal. Sejumlah faktor yang menjadi perhatian antara lain ketegangan geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, dan perlambatan ekonomi dunia.
Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi arus modal, pergerakan nilai tukar rupiah, serta biaya pendanaan di dalam negeri.
Karena itu, Bank Mandiri akan terus memperkuat penghimpunan dana, menjaga kualitas kredit, dan mengoptimalkan layanan digital. Langkah tersebut diharapkan dapat menopang pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan hingga akhir 2026.
