
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap di sejumlah wilayah Kalimantan masih menjadi tantangan bagi pemerintah. Terbatasnya potensi hujan alami membuat upaya pemadaman terkendala, sementara operasi modifikasi cuaca belum dapat dilakukan secara optimal di semua wilayah.
Menurut Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan alami di Kalimantan Tengah secara umum baru diperkirakan turun pada November. Di sejumlah wilayah, hujan bahkan diprediksi baru terjadi menjelang akhir bulan tersebut.
Pemerintah terus mengupayakan langkah untuk membantu pemadaman api dan mengurangi dampak kabut asap. Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) yang melibatkan BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dengan dukungan Kementerian Kehutanan.
Raja Juli menyebut hujan yang turun di sejumlah wilayah, termasuk Palangka Raya dan kawasan Kotawaringin Barat, dalam beberapa waktu terakhir merupakan hasil operasi modifikasi cuaca, bukan hujan alami.
Namun, pelaksanaan operasi tersebut menghadapi kendala berupa terbatasnya bibit awan yang dapat disemai. Kondisi atmosfer yang kurang mendukung membuat upaya memicu hujan belum bisa dilakukan secara merata di seluruh wilayah terdampak.
Selain modifikasi cuaca, pemerintah berencana menguji penggunaan dry ice sebagai salah satu metode intervensi untuk membantu mengatasi kabut asap.
Baca Juga: TPG Guru Non-ASN Cair Akhir Oktober 2026, Ini Syarat Penerimanya
Raja Juli menjelaskan, penelitian mengenai metode tersebut telah dilakukan BMKG bersama pihak dari Thailand. Pengembangannya masih berlangsung untuk mengetahui efektivitas penerapannya.
Ia juga menyampaikan laporan mengenai hasil intervensi dry ice di Sumatera Selatan. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari Gubernur Sumatera Selatan, jarak pandang yang sebelumnya sekitar 30 meter dilaporkan meningkat menjadi kurang lebih 2.800 meter setelah intervensi dilakukan.
Meski demikian, penggunaan dry ice masih perlu dikembangkan lebih lanjut untuk mengetahui efektivitasnya dalam penanganan kabut asap. Sementara itu, keterbatasan awan hujan dan perkiraan mundurnya musim hujan menjadi tantangan bagi upaya penanganan karhutla di Kalimantan.
