
Bank Indonesia (BI) menghadapi tekanan untuk menjaga stabilitas rupiah setelah nilai tukar menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), bersamaan dengan kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 11,57% pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Kondisi tersebut kembali memunculkan spekulasi pasar mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga acuan BI.
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dalam dua hari terakhir lebih dipengaruhi persoalan domestik daripada penguatan dolar AS. Menurutnya, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena tekanan nilai tukar berpotensi meningkatkan kebutuhan intervensi BI di pasar valuta asing.
“Pelemahan mata uang rupiah selama dua hari ini benar-benar murni karena kondisi domestik. Karena saya lihat indeks dolar pun juga melemah cukup tajam,” ujar Ibrahim, Jumat (16/10/2026).
Ibrahim mengingatkan, jika BI tidak menaikkan suku bunga, kebutuhan intervensi di pasar valuta asing berpotensi semakin besar dan menggerus cadangan devisa. Tekanan terhadap rupiah, menurutnya, perlu diwaspadai apabila sentimen negatif dari dalam negeri terus berlanjut.
“Dengan tidak menaikkan suku bunga, kemungkinan besar intervensi di pasar internasional maupun pasar domestik akan begitu besar. Sehingga ini akan menggerus cadangan devisa,” katanya.
Pada perdagangan Jumat, IHSG ditutup anjlok 11,57% ke level 5.185,11. Penurunan tersebut sempat memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt. Pada hari yang sama, rupiah di pasar spot melemah 0,50% ke posisi Rp18.027 per dolar AS.
Tekanan pasar terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan rencana mengevaluasi klasifikasi pasar saham Indonesia. Mengutip Bloomberg, Jumat (16/10/2026), kekhawatiran terhadap dampak evaluasi MSCI turut menjadi perhatian investor di tengah gejolak pasar keuangan domestik.
MSCI menyoroti persoalan transparansi struktur kepemilikan saham dan kredibilitas pasar modal Indonesia. Usulan penurunan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market berisiko mengurangi keterwakilan saham Indonesia dalam indeks acuan global dan memicu aksi jual investor internasional.
Baca Juga: IHSG Ambruk 11,57% hingga Trading Halt, Asing Borong GOTO Rp288 Miliar, BBCA Dilepas Rp2,33 Triliun
Baca Juga: BI Ogah Naikkan Suku Bunga, Rupiah Terancam Makin Loyo?
Baca Juga: IHSG Anjlok Terdalam Sejak 1998, Pasar Panik Usul Standalone Market MSCI
Dalam situasi tersebut, kenaikan suku bunga acuan dapat menjadi salah satu opsi untuk menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah dan menahan arus modal keluar. Namun, langkah itu juga berpotensi meningkatkan biaya pinjaman bagi dunia usaha dan masyarakat.
Sebaliknya, jika suku bunga dipertahankan, BI berpotensi menghadapi kebutuhan intervensi yang lebih besar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Meski demikian, keputusan suku bunga tetap bergantung pada penilaian BI terhadap perkembangan inflasi, nilai tukar, arus modal, dan kondisi perekonomian.
Selain kebijakan moneter, transparansi dan tata kelola pasar modal menjadi perhatian di tengah upaya menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
