
Langkah Presiden Prabowo Subianto yang resmi melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa menuai beragam reaksi. Salah satu sorotan tajam datang dari Mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto.
Tiyo menilai keluarnya Purbaya dari kabinet akan jauh lebih mendapat simpati publik apabila sang mantan menteri berinisiatif meletakkan jabatan sejak beberapa bulan lalu, sebelum akhirnya terkena perombakan kabinet.
“Andai saja sejak Juli lalu mundur, Pak Purbaya. Pasti sedikit lebih gagah. Tapi, ya, sudahlah. Selamat, Pak,” tulis Tiyo menanggapi pergantian tersebut.
Kritik yang dilontarkan Tiyo saat ini sejalan dengan sikapnya di masa lalu. Pada bulan Juli, aktivis mahasiswa ini memang sudah secara terbuka memberikan catatan kritis dan menyarankan agar Purbaya segera mundur karena banyak janjinya yang dinilai tidak terealisasi.
“Kalau saya jadi Purbaya, saya sudah mundur. Semua yang diomongkan tak ada yang kejadian,” tegas Tiyo pada Juli lalu.
Masa bakti Purbaya sebagai bendahara negara terbilang sangat singkat, yakni kurang lebih hanya satu tahun. Selama berada di bawah komandonya, kebijakan Kemenkeu kerap memicu perdebatan di ruang publik dan dianggap kontroversial.
Salah satu insiden terbaru yang paling memantik amarah publik adalah komentarnya terkait beban utang proyek kereta cepat Whoosh yang memiliki tenor panjang hingga 80 tahun.
Bukannya memberikan penjelasan teknis terkait mitigasi fiskal, Purbaya justru melontarkan pernyataan yang dinilai abai terhadap tanggung jawab lintas generasi.
“Enggak usah dipikirin, kita udah mati semua,” ucap Purbaya beberapa waktu lalu.
Sikap komunikasinya yang kerap ceplas-ceplos inilah yang dinilai turut mempercepat berakhirnya kiprah Purbaya di kabinet pemerintahan saat ini.
