
Wakil Direktur PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, menyebut Indonesia memiliki potensi biomethane sebesar 200 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD). Potensi tersebut diperoleh melalui pemanfaatan limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) yang dimurnikan menjadi biogas.
Dalam agenda 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) di The Meru Sanur, Denpasar, Bali, pemanfaatan potensi tersebut didorong sebagai salah satu upaya menjaga ketahanan energi di kawasan ASEAN.
“Kita juga mendiskusikan bagaimana meng-capture methane yang keluar dari limbah-limbah cair yang ada di Indonesia dan juga di negara lain. Sebagai contoh untuk limbah cair ini di Indonesia saja kita punya potensi lebih dari 200 MMSCFD potensi biomethane yang bisa kita monetize,” ungkap Oki.
Pengembangan sumber energi baru ini tidak hanya menjadi langkah penting dalam pengelolaan limbah di Indonesia, tetapi juga krusial mengingat proyeksi ASCOPE untuk periode mendatang. Dalam proyeksi tersebut, ASEAN diperkirakan akan mengalami defisit gas dan menjadi pengimpor bersih (net importer) setelah tahun 2032.
“Agar nanti anak cucu kita bisa survive, tentu kita harus membuat perencanaan yang matang, bagaimana kita bisa memperbanyak produksi di masing-masing negara dan juga kemudian untuk aktif berinvestasi bersama-sama di kawasan yang lain,” lanjut Oki.
Dalam kegiatan yang sama, Direktur Utama Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), John Anis, menjabarkan bahwa kolaborasi antarnegara ASEAN dalam pemanfaatan POME sebagai biogas sudah mulai berjalan.
Salah satunya, PNRE telah bekerja sama dengan Singapore LNG Corporation untuk mengolah POME menjadi biometana, yang kemudian diproses kembali menjadi bio-liquefied natural gas (Bio-LNG).
“Misalnya kita (Pertamina) dengan SLNG ya Singapore LNG, kita mengembangkan biometan. Biomethane dari biogas yang ada di apa namanya pabrik-pabrik kelapa sawit kita,” jabarnya.
John mengungkapkan bahwa kolaborasi tersebut menggabungkan ketersediaan bahan baku dari Indonesia dengan kesiapan pasar serta terminal rendah karbon yang dimiliki Singapura.
“Mereka punya market, kita punya feedstock dalam hal ini bahan baku, dan kita nanti juga punya teknologi kita kerja samakan bersama-sama sehingga saling menguntungkan,” katanya.
Terkait kesiapan pasokan bahan baku (feedstock), PNRE telah memetakan potensi dari sekitar 27 pabrik kelapa sawit di Sumatra yang terbagi ke dalam empat klaster utama. Keempat klaster tersebut meliputi Sumatra Utara (Klaster 1), Riau (Klaster 2), Jambi (Klaster 3), serta Lampung dan Palembang (Klaster 4).
Saat ini, studi kelayakan (feasibility study) untuk proyek tersebut menunjukkan kemajuan positif. Perusahaan tengah mematangkan rencana transportasi transmisi biometana, baik melalui jaringan pipa maupun truk moda darat. Pihaknya juga menargetkan pengamanan surat minat (letter of intent) dengan para pembeli (off-taker).
“Sementara kita mematangkan detail study-nya untuk nanti pembangunan pabriknya yang ada di dekat perusahaan-perusahaan atau pabrik-pabrik dari kelapa sawit,” jelasnya.
Apabila lokasi pabrik biometana terlalu jauh dari jaringan pipa eksisting, PNRE menyiapkan skema pemindahan virtual (virtual transfer) atau pertukaran molekul (gas swapping).
Melalui mekanisme ini, biometana yang diproduksi dapat disalurkan untuk kebutuhan domestik terdekat, sementara volume gas bernilai setara dari lokasi lain dialirkan melalui pipa menuju pasar ekspor.
“Jadi nanti bisa aja misalkan gas yang dari tempat lain kita alirkan melalui pipa yang sama ke market yang sudah ada, tapi itu adalah sebenarnya menggantikan kayak swapping gitu ya gas yang kita produksikan. Jadi itu ada mekanismenya lah yang disebut virtual transfer,” tandasnya.
Di sisi lain, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sebagai subholding gas Pertamina juga memperkuat komitmennya dalam mendukung pengembangan biomethane di tanah air.
Berdasarkan bahan paparan Pertamina, PGN menyiapkan tiga titik proyek pengembangan biometana di kawasan Sumatra yang ditargetkan mulai beroperasi secara komersial (commercial operation date/COD) pada 2027.
Baca Juga: Pertamina Perkuat Kolaborasi Energi Hijau di ASEAN
Baca Juga: Pink October, Ribuan Perempuan Indonesia Rasakan Manfaat Layanan Mamografi Gratis Pertamina
Ketiga proyek tersebut meliputi:
Injection Point Sei Mangkei
PGN melalui Pertagas membangun fasilitas titik injeksi di Sei Mangkei untuk menyalurkan biometana ke dalam jaringan pasokan gas eksisting Pertagas sebagai bentuk diversifikasi pasokan gas.
Target COD: 2027
CNG-Biomethane Pekanbaru
PGN melalui Gagas merencanakan penjualan gas biometana dari pengembang biometana kepada pelanggan Gagas yang sudah ada sebagai langkah diversifikasi pasokan gas.
Target COD: 2027
Injection Point South Sumatra
PGN melalui SPG Pagardewa menerima dan menginjeksikan gas biometana menggunakan truk CNG ke dalam jaringan pipa Sumatra Selatan–Jawa Barat (SSWJ). Saat ini, fasilitas tersebut tengah memasuki tahap konstruksi.
Target COD: 2027
