
Iran memperkenalkan versi terbaru drone serang Arash-3 dengan sejumlah peningkatan, termasuk hulu ledak lebih berat, sistem navigasi yang tidak bergantung pada GPS, dan penargetan berbantuan kecerdasan buatan (AI).
Drone tersebut terlihat dalam rekaman yang dirilis pada 22 Oktober 2026. Mengutip Press TV, rekaman itu menampilkan kunjungan Panglima Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, ke fasilitas produksi drone yang disebut berada di bawah tanah.
Pengembangan Arash-3 menjadi bagian dari upaya Iran memperkuat kemampuan sistem senjata tanpa awak melalui produksi dalam negeri.
Dalam presentasi yang ditampilkan, seorang spesialis Angkatan Darat Iran menyatakan bahwa kombinasi peningkatan pada hulu ledak dan komponen lainnya dapat meningkatkan kerusakan terhadap sasaran hingga sekitar 2,3 kali lipat.
Versi terbaru Arash-3 disebut mengalami perubahan bobot hulu ledak, komposisi bahan peledak dan pembakar, serta sistem penargetan.
Namun, angka peningkatan daya rusak tersebut masih berupa klaim pihak Iran. Besarnya dampak dalam operasi nyata juga dipengaruhi karakteristik sasaran, jenis bahan peledak, dan kondisi saat benturan terjadi.
Karena itu, penambahan bobot hulu ledak belum cukup untuk memastikan tingkat efektivitas drone tersebut di medan perang.
Peningkatan lain terdapat pada sistem navigasi. Arash-3 terbaru disebut dapat beroperasi tanpa bergantung pada GPS, sehingga dirancang untuk mengurangi kerentanan terhadap gangguan sinyal navigasi satelit.
Kemampuan ini menjadi relevan dalam peperangan modern, ketika gangguan elektronik dapat menghambat penggunaan sistem navigasi berbasis satelit.
Meski demikian, navigasi alternatif tidak otomatis membuat drone kebal terhadap seluruh jenis gangguan elektronik. Efektivitasnya bergantung pada teknologi yang digunakan dan kemampuan sistem bekerja dalam kondisi operasional yang berbeda.
Arash-3 juga disebut menggunakan AI untuk membantu penargetan. Namun, informasi yang tersedia belum menjelaskan secara terperinci fungsi AI tersebut, tingkat otonomi drone, maupun hasil pengujiannya.
Pengembangan keluarga Arash juga dikaitkan dengan kemungkinan penggunaan mesin mikrojet. Model sebelumnya disebut menggunakan mesin piston, termasuk MD-550.
Mesin jet Tolou-10 buatan Iran turut disebut sebagai salah satu kandidat untuk varian baru. Namun, belum ada informasi yang cukup untuk memastikan mesin tersebut benar-benar digunakan pada Arash-3 terbaru.
Penggunaan mesin jet dapat menghasilkan karakteristik penerbangan berbeda dibandingkan mesin piston. Meski begitu, performa keseluruhan juga ditentukan oleh desain pesawat, berat, kapasitas bahan bakar, dan sistem penggeraknya.
Informasi mengenai kecepatan, jangkauan, daya tahan terbang, dan keandalan Arash-3 juga belum tersedia secara memadai untuk membandingkan setiap variannya.
Arash dilaporkan memiliki konfigurasi sayap berbentuk delta dan dua sirip penstabil vertikal. Perbedaan visual pada sejumlah model memunculkan dugaan adanya perubahan desain badan pesawat.
Selain itu, terdapat pembahasan mengenai kemungkinan penggunaan material komposit dan struktur internal berbentuk sarang lebah. Material komposit dapat membantu menyeimbangkan bobot dan kekuatan struktur, sedangkan struktur sarang lebah dapat meningkatkan kekakuan tanpa menambah massa secara berlebihan.
Namun, komposisi material dan struktur internal Arash-3 belum terdokumentasi secara terbuka dengan cukup terperinci. Kemampuan mengurangi deteksi radar juga belum dapat dipastikan hanya berdasarkan tampilan atau dugaan penggunaan material tertentu.
Secara keseluruhan, Arash-3 terbaru memperlihatkan arah pengembangan drone Iran yang mencakup peningkatan hulu ledak, navigasi alternatif, penargetan berbantuan AI, serta kemungkinan penggunaan sistem penggerak berbeda.
