
PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) atau Asuransi Jasindo memperkuat perannya sebagai mitra pengelolaan risiko (Risk Management Partner) untuk mendukung percepatan hilirisasi industri nasional yang semakin kompleks.
Langkah ini sejalan dengan peluncuran 11 proyek hilirisasi di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara, dengan total nilai investasi mencapai US$10,2 miliar atau sekitar Rp180 triliun. Dalam rangkaian tersebut, pemerintah juga melepas ekspor perdana baterai kendaraan listrik.
Sebanyak empat proyek telah memasuki tahap komersialisasi, sedangkan tujuh proyek lainnya mulai dibangun. Proyek-proyek tersebut mencakup pengembangan material baterai berbasis nikel, baterai kendaraan listrik, aluminium, alat berat berbasis listrik, hingga kaca fotovoltaik (photovoltaic glass) untuk industri energi surya.
Perkembangan tersebut menunjukkan hilirisasi tidak lagi sebatas pengolahan bahan mentah, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem industri yang melibatkan aset, teknologi, proses produksi, energi, dan rantai pasok yang saling terintegrasi.
Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo, Brellian Gema Widayana, mengatakan kompleksitas industri hilir membutuhkan pengelolaan risiko yang menyeluruh, mulai dari identifikasi dan penilaian risiko hingga penentuan perlindungan yang sesuai dengan karakteristik usaha.
“Hilirisasi menciptakan ekosistem industri baru dengan aset, proses produksi, teknologi, serta rantai pasok yang semakin kompleks. Karena itu, pengelolaan risiko perlu menjadi bagian dari perjalanan bisnis sejak awal. Asuransi Jasindo siap mendukung kebutuhan tersebut melalui pendekatan berbasis risiko secara menyeluruh dan disesuaikan dengan karakteristik industri,” ujar Brellian.
Dia menjelaskan, risiko yang dapat mengganggu operasional industri hilir meliputi kerusakan aset, gangguan mesin dan peralatan, kebakaran dan ledakan, gangguan utilitas dan energi, serta bencana alam. Risiko lainnya mencakup gangguan transportasi dan rantai pasok hingga potensi gangguan operasional dan kewajiban kepada pihak ketiga.
Karena itu, pemahaman terhadap eksposur risiko menjadi dasar dalam menentukan perlindungan yang tepat. Pendekatan tersebut sejalan dengan transformasi Jasindo dalam memperkuat kapabilitas manajemen risiko, underwriting, risk engineering, serta penyediaan solusi perlindungan yang terintegrasi.
Menurut Brellian, Jasindo memiliki kapabilitas pada berbagai lini bisnis yang relevan dengan ekosistem industri dan proyek strategis nasional. Kapabilitas tersebut mendukung pemahaman terhadap risiko pada setiap tahapan usaha, mulai dari pembangunan dan instalasi hingga pengoperasian serta keberlangsungan operasional.
“Bagi kami, pahami risikonya terlebih dulu sebelum memberikan perlindungan. Dengan begitu, solusi menjadi lebih relevan dengan kebutuhan bisnis serta dapat mendukung keberlangsungan operasional tertanggung. Ini menjadi komitmen kami sebagai Risk Management Partner,” katanya.
Brellian menambahkan, percepatan hilirisasi turut memperkuat keterkaitan investasi, industri, energi, teknologi, dan rantai pasok domestik. Pengembangan kawasan IWIP disebut telah menarik investasi sekitar US$20 miliar dan menyerap lebih dari 100.000 tenaga kerja di Indonesia. Selain itu, terdapat rencana tambahan investasi sekitar US$7 miliar.
Menurutnya, pertumbuhan kapasitas industri pengolahan perlu diimbangi dengan ekosistem pengelolaan risiko yang memadai untuk menjaga keberlangsungan investasi dan operasional perusahaan.
“Kami memandang hilirisasi bukan hanya sebagai pertumbuhan investasi, tetapi juga sebagai terbentuknya kapasitas industri baru Indonesia. Asuransi Jasindo ingin turut mendukung pertumbuhan tersebut melalui pemahaman dan pengelolaan risiko yang kuat,” tutup Brellian.
