
100 Days of Deception memadukan kisah spionase, dendam, dan perjuangan kemerdekaan Korea dengan latar sejarah pendudukan Jepang. Drama thriller berlatar tahun 1932 ini menempatkan Seoul—yang saat itu disebut Gyeongseong atau Keijo—sebagai pusat cerita.
Tokoh utamanya adalah Lee Ga Kyung, seorang pencopet yang tiba-tiba direkrut menjadi mata-mata. Tawaran itu datang dari Yoo So Ran, aktivis kemerdekaan Korea. Ga Kyung menerima misi tersebut karena dijanjikan kesempatan untuk pergi ke Amerika. Dalam menjalankan tugas, ia menggunakan identitas Geum So Hee dan bekerja sebagai penerjemah di kantor gubernur Jepang di Keijo.
Misi mata-mata di kantor gubernur Jepang
Di tempat itu, Geum So Hee bertemu Sato Hideo, putra angkat Sinichi Sato, gubernur jenderal Jepang di Korea. Di balik pekerjaannya sebagai penerjemah, Ga Kyung harus melaporkan berbagai aktivitas di kantor gubernur kepada Yoo So Ran.
So Ran memiliki tujuan khusus: membunuh Sinichi Sato sebagai bentuk balas dendam atas kematian anaknya. Ia bukan karakter utama dalam drama, tetapi menjadi sosok penting yang menghubungkan Ga Kyung dengan jaringan perjuangan kemerdekaan.
Dalam cerita, So Ran digambarkan sebagai ibu rumah tangga yang menikah dengan seorang guru. Sang suami ternyata diam-diam membantu para pejuang kemerdekaan. Ketika ia menolak memberikan informasi untuk melindungi pejuang lain, pembunuhan massal terjadi di desa tempat mereka tinggal. Anak So Ran turut menjadi korban. Peristiwa itu mendorongnya bergabung dengan para pejuang di Shanghai dan bertekad mengusir Jepang dari Korea.
Gerakan 1 Maret dan perjuangan kemerdekaan
Drama ini mengaitkan kisah fiksinya dengan Gerakan 1 Maret 1919, salah satu peristiwa penting dalam perjuangan Korea untuk melepaskan diri dari penjajahan Jepang. Aksi deklarasi kemerdekaan tersebut bermula di Tapgol Park, tetapi berakhir ricuh setelah Jepang mengerahkan pasukan bersenjata untuk memburu dan menangkap para pemimpin gerakan.
Dalam uraian sejarah yang menjadi konteks drama, sekitar 1.500 demonstran ditangkap. Sebanyak 7.000 warga sipil dibunuh dan 15.000 lainnya terluka. Gerakan tersebut kemudian membangkitkan perlawanan dari pejuang-pejuang lain yang mempertaruhkan hidup demi kemerdekaan Korea.
Salah satu karakter yang berkaitan dengan perjuangan itu adalah Sato Hideo, yang disebut sebagai orang Korea bernama Lee Bong Chang. Ia diadopsi keluarga Jepang dan menggunakan nama Kinoshita Shozo. Meski hidup dan tumbuh di Jepang, ia tetap mempertahankan identitas Koreanya serta bergabung dengan gerakan kemerdekaan.
Sejarah Korea mencatat tokoh dengan kisah serupa sebagai pejuang yang melempar granat ke iring-iringan Kaisar Hirohito di Tokyo. Upaya itu gagal, dan ia dihukum mati di tiang gantung Jepang pada 10 Oktober 1932.
Manchuria, Manchukuo, dan Gugukdan
Manchuria juga menjadi bagian dari konteks cerita. Wilayah di timur laut Tiongkok itu diserbu Jepang pada 1931, setelah sebelumnya menjadi tempat pelarian banyak orang Korea sekaligus lokasi berbagai perkumpulan pejuang kemerdekaan. Setelah menguasainya, Jepang mengganti nama wilayah tersebut menjadi Manchukuo dan berupaya menjadikannya negara merdeka. Namun, Manchukuo pada praktiknya merupakan negara boneka. Kecaman Liga Bangsa-Bangsa membuat Jepang keluar dari organisasi tersebut, sementara Manchukuo bertahan selama 13 tahun hingga bubar pada akhir Perang Dunia II.
Organisasi Gugukdan dalam drama terinspirasi dari Haninaegukdan atau Korean Patriotic Organization, kelompok yang didirikan Kim Gu di Shanghai pada 1931. Shanghai juga pernah menjadi tempat berdirinya pemerintahan sementara Korea. Drama ini disutradarai Yoo In Shik dan dibintangi Kim Yoo Jung, Jin Young, Kim Hyun Joo, Lee Moo Saeng, serta Jin Seon Kyu.
