
Qiscus, penyedia platform agentic customer engagement di Asia Tenggara, meluncurkan dua teknologi kecerdasan buatan (AI), yakni Operator dan Qiscus MCP, untuk mempercepat pengambilan keputusan dan mengotomatisasi operasional layanan pelanggan. Peluncuran tersebut dilakukan dalam forum Conversa 6.0 di Fairmont Hotel Jakarta pada 26 Oktober 2026.
Kedua teknologi tersebut menjadi bagian dari pengembangan ekosistem AI Qiscus untuk menghadirkan Perfect Customer Experience (CX), yakni pengalaman pelanggan yang cepat, personal, dan proaktif. Perusahaan menargetkan bisnis dapat mengintegrasikan tim, sistem, dan AI agar mampu merespons kebutuhan pelanggan secara lebih efektif.
Qiscus menilai pertumbuhan jumlah kanal komunikasi, penggunaan berbagai dasbor oleh tim, serta tersebarnya data di banyak sistem telah meningkatkan kompleksitas operasional layanan pelanggan. Kondisi tersebut juga menambah jumlah sinyal yang harus dianalisis dan keputusan yang perlu diambil dalam waktu singkat.
Perusahaan menyebut jeda antara munculnya sinyal dan pengambilan keputusan sebagai decision latency. Menurut Qiscus, pemangkasan jeda tersebut menjadi salah satu tantangan utama dalam penerapan AI di lingkungan bisnis.
Melalui tema The Agentic Shift Orchestrates AI Complexity, Conversa 6.0 membahas pendekatan orkestrasi AI untuk menyatukan berbagai sistem dan proses bisnis. Forum tersebut dihadiri lebih dari 200 praktisi bisnis, dengan menghadirkan Achmad Zaky dari Init6, Andre Djokosoetono dari Bluebird Group, Susanto Benny dari Asuransi Astra, Inggita Sistha Widyawan dari Novo Indonesia, serta Norhaslina Othman dari KPJ Healthcare.
CEO sekaligus Co-Founder Qiscus, Delta Purna Widyangga, mengatakan pengembangan AI perlu bergerak melampaui fungsi interaksi, seperti menjawab pertanyaan pelanggan, menuju proses operasional yang mendukung pengambilan keputusan.
“Selama ini, AI di layanan pelanggan sebagian besar bekerja di layer interaksi, membantu menjawab lebih cepat. Langkah berikutnya adalah membawanya ke layer operasional, tempat keputusan diambil, karena yang dibutuhkan bisnis hari ini bukan sekadar memberikan jawaban yang lebih cepat, tetapi menyediakan keputusan yang lebih cepat dan lebih tepat. Kami percaya dengan cara inilah setiap pelanggan bisa mendapatkan perfect experience, bukan hanya pelanggan VIP,” kata Delta.
Operator dirancang untuk memperpendek jeda antara analisis dan pelaksanaan tindakan. Melalui teknologi ini, analis dapat mengajukan pertanyaan untuk memperoleh jawaban dan laporan, sedangkan tim operasional dapat menjalankan tindak lanjut serta otomatisasi dari tempat yang sama.
Qiscus menyatakan setiap tindakan melalui Operator dapat ditelusuri, dibatalkan, dan diukur berdasarkan dampak bisnisnya. Fitur tersebut ditujukan untuk membantu perusahaan menghubungkan proses analisis dengan pelaksanaan operasional tanpa harus berpindah-pindah sistem.
Sementara itu, Qiscus MCP dikembangkan untuk menghubungkan ekosistem Qiscus dengan AI Agent yang telah digunakan oleh perusahaan. Integrasi ini memungkinkan bisnis mengorkestrasikan penggunaan AI dalam lingkungan operasional yang sudah berjalan.
Selain Operator dan Qiscus MCP, Qiscus mengembangkan sejumlah teknologi lain untuk mendukung pengalaman pelanggan. AgentLabs menghadirkan respons melalui percakapan teks maupun telepon, sedangkan Agent Copilot membantu personalisasi layanan dan mendukung dialog dua arah bagi tim melalui kotak masuk percakapan.
Rangkaian teknologi tersebut menjadi bagian dari pendekatan Qiscus dalam mengintegrasikan interaksi pelanggan dengan proses operasional bisnis. Perusahaan menilai orkestrasi berbagai lapisan AI dapat membantu bisnis memberikan layanan yang lebih cepat sekaligus mengambil keputusan secara lebih tepat.
Sebagai langkah lanjutan, Qiscus membuka complimentary technical workshop bagi perusahaan yang ingin mulai mengintegrasikan dan mengorkestrasikan AI dalam operasional mereka.
Qiscus menyatakan teknologinya telah digunakan oleh ribuan perusahaan dan menjangkau lebih dari 265 juta pengguna akhir (end-user). Sejak 2016, perusahaan telah melayani berbagai organisasi, termasuk Telkom Indonesia, Bluebird, Bank Raya, Paragon, Time International, Halodoc, dan Dompet Dhuafa.
Dengan lebih dari 170 karyawan dan tiga hub regional di Indonesia, Malaysia, dan Singapura, Qiscus melanjutkan pengembangan teknologi AI untuk kebutuhan customer engagement di Asia Tenggara.
Peluncuran Operator dan Qiscus MCP menandai perluasan fokus Qiscus dari otomatisasi interaksi menuju dukungan operasional berbasis AI. Namun, perusahaan belum memaparkan angka terukur mengenai potensi penghematan biaya, peningkatan produktivitas, atau dampak finansial yang dapat diperoleh pelanggan dari kedua teknologi tersebut.
