
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan para mahasiswa dapat memberikan dampak nyata pada industri di Indonesia.
“Inilah yang kami harapkan bahwa pendidikan tinggi, sains, dan teknologi itu bisa memberikan dampak, yaitu memberikan pengaruh yang besar kepada industri di Indonesia,” ujar Brian dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Brian mengatakan, perancang chip dan peneliti AI Indonesia berpeluang bekerja sama dengan perusahaan global untuk mengembangkan teknologi yang dapat dimanfaatkan di berbagai sektor, mulai dari pendidikan dan kesehatan hingga peningkatan produktivitas dunia usaha.
“Perancang chip dan peneliti AI kita dapat bekerja sama saat ini dengan Arm, Microsoft, Google, dan Amazon Web Services di bidang semikonduktor dan infrastruktur digital,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan teknologi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas riset nasional, tetapi juga menghasilkan inovasi yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat.
Dia mencontohkan pemanfaatan teknologi untuk membantu guru dalam kegiatan belajar-mengajar, mendukung dokter dalam melakukan diagnosis, serta meningkatkan produktivitas pelaku usaha.
Brian menegaskan, pemerintah ingin Indonesia memiliki kemampuan untuk menciptakan, menguasai, dan memproduksi teknologi. Menurutnya, besarnya sumber daya alam dan pasar domestik perlu diimbangi dengan peningkatan produktivitas, penguatan industri, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM).
Brian turut menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto meminta Danantara menghubungkan investasi jangka panjang dengan kegiatan riset dan BUMN agar inovasi yang potensial dapat dikembangkan hingga mencapai skala industri.
“Bapak Presiden juga meminta kepada Danantara dapat menghubungkan investasi jangka panjang dengan riset dan BUMN kita, agar inovasi yang layak dapat mencapai skala industri,” ungkap Brian.
Menurut Brian, keberhasilan investasi teknologi perlu diukur melalui peningkatan kemampuan nasional, tidak hanya dari besarnya modal yang masuk.
“Mari kita ukur keberhasilan dari kapabilitas yang sedang kita bangun selain dari modal yang ditanamkan,” ujarnya.
Selain semikonduktor dan AI, Brian menyebutkan peluang kolaborasi di bidang energi, termasuk antara PLN dan peneliti energi Indonesia dengan perusahaan seperti Siemens, Schneider Electric, dan Hitachi Energy untuk mengembangkan jaringan listrik cerdas serta energi bersih.
“PLN dan para peneliti energi kita juga dapat bekerja sama dengan Siemens, Schneider Electric, dan Hitachi Energy, jaringan listrik cerdas, dan energi bersih untuk menghasilkan listrik yang lebih murah dan andal bagi pulau-pulau kita,” katanya.
Pemerintah juga melihat peluang kerja sama di sektor maritim dan dirgantara. Brian menyebut rencana kolaborasi ITS, perguruan tinggi lain, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Oxford Maritime untuk mengembangkan kapal yang lebih efisien.
Berbagai peluang tersebut, menurut Brian, perlu diarahkan untuk membangun industri nasional yang lebih modern dan berbasis teknologi.
Dia juga mengajak mitra internasional untuk tidak hanya berinovasi dan berinvestasi di Indonesia, tetapi turut memproduksi teknologi di dalam negeri dengan melibatkan talenta nasional.
“Kepada berbagai mitra internasional yang datang, undangan dari Bapak Presiden sederhana: berinovasilah di Indonesia, berinvestasilah di Indonesia, dan marilah kita juga memproduksi di Indonesia,” tutur Brian.
