
Konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali memanas setelah kedua pihak saling melancarkan serangan rudal dan udara. Eskalasi ini meningkatkan risiko perang regional sekaligus memperburuk kondisi keamanan di Yaman.
Pada Sabtu (24/10/2026), militer Arab Saudi dilaporkan melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah Yaman, termasuk ibu kota Sanaa dan Kota Mocha. Media yang dikelola Houthi melaporkan sejumlah korban jiwa akibat serangan yang menghantam kawasan permukiman.
Secara keseluruhan, laporan yang dikutip AFP menyebutkan sedikitnya 16 orang tewas dalam serangan Saudi. Korban dilaporkan mencakup perempuan dan anak-anak. Namun, rincian korban dan sejumlah klaim di medan perang belum dapat diverifikasi secara independen.
Kelompok Houthi kemudian mengklaim melancarkan serangan balasan ke Kota Aden, yang menjadi pusat pemerintahan Yaman yang didukung Arab Saudi. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa serangan tersebut menyasar pangkalan angkatan laut dan kamp militer yang berkaitan dengan pasukan Saudi.
Koalisi pimpinan Arab Saudi juga mengumumkan telah mencegat dua rudal yang mengarah ke Kota Taif dan Yanbu. Situasi ini menunjukkan meluasnya ancaman serangan terhadap wilayah Saudi dan sejumlah fasilitas strategis.
Ketegangan turut berdampak pada sektor penerbangan. Pada Minggu (25/10), kelompok Houthi kembali memperingatkan maskapai, pekerja bandara, dan penumpang agar tidak menggunakan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Houthi menyebut bandara tersebut sebagai target militer.
Sebelumnya, operasional bandara itu sempat dihentikan pada 10 Oktober menyusul serangan yang dilaporkan menimbulkan korban jiwa dan ratusan orang terluka. Pengelola bandara kemudian mengumumkan pengaturan ulang penggunaan terminal untuk penerbangan domestik dan internasional.
Di tengah meningkatnya pertempuran, upaya diplomatik untuk meredakan konflik belum menunjukkan kemajuan berarti. Iran telah menawarkan diri untuk memfasilitasi pembicaraan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi. Namun, hingga 20 Oktober, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan kedua pihak belum memberikan tanggapan terhadap tawaran tersebut.
Utusan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Yaman, Hans Grundberg, sebelumnya memperingatkan bahwa negara tersebut kembali terjerumus ke dalam perang berskala penuh. Ia menekankan bahwa tekanan militer tidak dapat menggantikan proses perundingan politik untuk mengakhiri konflik.
