
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat tiga perusahaan dengan aset berskala besar tengah mengantre untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).
Ketiga calon emiten tersebut memiliki total aset masing-masing di atas Rp250 miliar dan menjadi bagian dari sembilan perusahaan yang masuk dalam daftar antrean pencatatan saham BEI hingga 23 Oktober 2026.
Berdasarkan laporan BEI yang dikutip Senin (26/10/2026), perusahaan beraset besar tersebut mencakup sepertiga dari total calon emiten yang tengah mempersiapkan pencatatan saham di pasar modal Indonesia.
“Hingga saat ini, terdapat 9 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” demikian keterangan BEI dalam laporannya.
Klasifikasi calon emiten berdasarkan ukuran aset tersebut mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017. Dalam ketentuan tersebut, perusahaan dengan aset lebih dari Rp250 miliar masuk kategori emiten berskala besar.
Sementara itu, lima perusahaan lainnya yang berada dalam antrean IPO memiliki aset berskala menengah, yakni antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Adapun satu calon emiten masuk kategori perusahaan beraset kecil dengan nilai aset di bawah Rp50 miliar.
Dengan komposisi tersebut, kelompok perusahaan beraset besar menyumbang sekitar 33,3% dari keseluruhan antrean IPO di BEI. Sementara itu, calon emiten beraset menengah mendominasi dengan porsi sekitar 55,6%, disusul perusahaan beraset kecil sebesar 11,1%.
Meski demikian, BEI belum mengungkapkan identitas tiga perusahaan beraset jumbo yang tengah mempersiapkan IPO tersebut dalam laporan yang dikutip.
Informasi mengenai nilai aset masing-masing perusahaan, target penghimpunan dana, harga penawaran saham, serta jadwal pencatatan juga belum dijelaskan secara terperinci.
Dengan demikian, besarnya aset calon emiten belum dapat digunakan untuk memperkirakan nilai dana yang akan dihimpun melalui penawaran saham perdana.
Pasalnya, dana IPO bergantung pada sejumlah faktor, termasuk jumlah saham yang ditawarkan dan harga penawaran yang ditetapkan perusahaan.
Dari sisi sektor usaha, industri kesehatan atau healthcare mendominasi daftar antrean IPO dengan empat perusahaan. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 44,4% dari total sembilan calon emiten yang tercatat dalam pipeline BEI.
Selanjutnya, terdapat dua perusahaan dari sektor bahan baku atau basic materials dan dua perusahaan dari sektor energi. Sementara itu, satu perusahaan lainnya berasal dari sektor keuangan atau financials.
Namun, BEI belum merinci sektor usaha dari masing-masing tiga perusahaan yang memiliki aset di atas Rp250 miliar tersebut.
Oleh karena itu, belum dapat dipastikan apakah ketiga calon emiten beraset besar tersebut berasal dari sektor kesehatan, energi, bahan baku, atau keuangan.
Di sisi lain, aktivitas IPO sepanjang 2026 masih menunjukkan jumlah pencatatan yang relatif terbatas. BEI melaporkan bahwa hingga 23 Oktober 2026, sebanyak tujuh perusahaan telah resmi mencatatkan sahamnya di bursa. Dari tujuh perusahaan tersebut, total dana yang berhasil dihimpun melalui IPO mencapai Rp2,16 triliun.
“Sampai dengan 23 October 2026 telah tercatat 7 perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan dana dihimpun Rp 2.16 triliun,” tulis BEI.
Berdasarkan angka tersebut, rata-rata dana yang dihimpun dari setiap IPO sepanjang periode tersebut mencapai sekitar Rp308,6 miliar.
Meski demikian, angka rata-rata tersebut tidak mencerminkan besaran dana yang diperoleh masing-masing emiten karena nilai penawaran dapat berbeda secara signifikan.
Keberadaan tiga perusahaan beraset besar dalam antrean IPO menjadi salah satu perkembangan yang dapat dicermati pelaku pasar menjelang akhir 2026.
Apabila seluruh proses penawaran dan pencatatan berhasil diselesaikan, kehadiran emiten baru berpotensi menambah pilihan investasi di pasar saham domestik.
Baca Juga: Komite HSC Dirombak! BEI Libatkan Bos Sekuritas hingga Investor Asing
Baca Juga: 9 Perusahaan Antre IPO, Ada dari Sektor Energi, Keuangan, hingga Kesehatan
Baca Juga: OJK Ungkap 74% dari 962 Emiten BEI Cetak Laba pada Kuartal II-2026
Namun, status sebagai perusahaan yang masuk dalam pipeline BEI belum berarti pelaksanaan IPO telah memperoleh seluruh persetujuan yang diperlukan atau dipastikan berlangsung pada tahun ini.
Realisasi pencatatan saham tetap bergantung pada kesiapan perusahaan, proses regulasi, serta kondisi pasar ketika penawaran dilakukan.
Dengan demikian, perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada pengumuman identitas ketiga calon emiten beraset besar tersebut, termasuk sektor usaha, prospektus, dan renc 3 Perusahaan Beraset Jumbo di Atas Rp250 Miliar Antre IPO di BEIana penggunaan dana hasil IPO.
