Friday, October 23News That Matters

Yayasan Paseban Angkat Perspektif Global dalam Konservasi Hutan Megamendung


Kawasan Megamendung terus memperoleh perhatian sebagai wilayah strategis yang mendukung perjalanan burung pemangsa pada musim migrasi. Dalam rangka memperkuat upaya perlindungan keanekaragaman hayati, Raptor Indonesia bersama sejumlah organisasi menggalang dukungan untuk mengurangi ancaman perburuan raptor migran serta menjaga keberlanjutan habitat hutan di Kabupaten Bogor.

Selama observasi yang berlangsung pada 16-18 Oktober 2026, sejumlah pengamat yang tergabung dalam Megamendung Bird Migration Watch 2026—program kolaborasi antara Yayasan Paseban, Burung Indonesia, dan Raptor Indonesia (RAIN)—berhasil merekam 915 kejadian migrasi raptor yang terdiri dari tiga spesies kunci. Di antara temuan tersebut tercatat 828 ekor elang-alap Cina (Accipiter soloensis), 76 sikep-madu Asia (Pernis ptilorhynchus), dan 11 elang-alap Nipon (Accipiter gularis).

Jumlah yang tercatat merupakan total pengamatan selama tiga hari, sehingga tidak dapat langsung dijadikan jumlah individu unik; hal ini membuat interpretasi tren populasi tahunan perlu pengamatan lanjutan. Namun, data ini memperkuat dugaan pentingnya Megamendung sebagai area transit bagi raptor yang tengah bermigrasi.

Zaini Rachman, Direktur Raptor Indonesia, menegaskan perlunya melihat Megamendung sebagai titik penting di jalur migrasi burung pemangsa. Ia berharap agar survei seperti ini menjadi agenda rutin tahunan, sehingga data tentang pergerakan dan kebutuhan burung dapat dipetakan secara menyeluruh.

Menurut Zaini, data yang diperoleh tidak hanya memberikan gambaran tentang spesies apa saja yang memanfaatkan kawasan tersebut, tetapi juga menyoroti peran Megamendung sebagai habitat persinggahan yang krusial. Sistem pemantauan yang berkelanjutan dinilai mampu menyediakan dasar ilmiah dalam menentukan kebijakan konservasi.

Sementara itu, Dian Agista selaku Direktur Eksekutif Burung Indonesia menyoroti soal pentingnya ketersediaan habitat di sepanjang jalur migrasi. Ia menilai bahwa berjalannya proses migrasi dengan baik mencerminkan kualitas ekosistem yang tetap terjaga, sehingga keseimbangan rantai makanan tidak terganggu. Setiap data yang dihasilkan selama musim migrasi, lanjutnya, memberikan kontribusi terhadap perencanaan tata kelola habitat yang juga relevan untuk upaya perlindungan lintas negara.

Selain itu, Ady Kristanto sebagai Direktur Konservasi Yayasan Paseban menyampaikan bahwa hutan-hutan di kawasan Paseban menjadi lokasi istirahat strategis sebelum burung melanjutkan perjalanan panjangnya. Ia menjelaskan bahwa pencatatan diversitas jenis burung yang berhenti di kawasan tersebut akan menjadi basis kebijakan konservasi yang lebih terarah di masa mendatang.

Di luar pengamatan terhadap raptor migran, para pengamat juga menemukan keberadaan 54 jenis burung lokal serta amfibi dan reptil yang beragam. Berbagai raptor penetap seperti elang-ular bido, elang hitam, dan elang Jawa turut teridentifikasi, menegaskan manfaat multi-fungsi kawasan Megamendung bagi satwa liar lokal dan migran.

Wiratno, selaku Penasihat Yayasan Paseban dan mantan Direktur Jenderal KSDAE, menambahkan bahwa kawasan Megamendung tidak terlepas dari kawasan Cagar Biosfer Cibodas. Dengan posisi strategis di zona transisi dan hubungan dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sebagai zona inti, Megamendung menjadi penghubung antara konservasi lokal dan skala global. Ia menyoroti kebutuhan mendesak untuk menjaga dan memulihkan ekosistem hutan pegunungan, lebih-lebih pada elevasi di atas 1.000 meter, demi kepentingan kelangsungan burung migran sekaligus kesejahteraan masyarakat sekitar.

Yayasan Paseban secara aktif telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui usulan surat edaran tentang pelarangan perburuan burung dan peningkatan pelindungan keanekaragaman hayati. Upaya ini juga diperkuat dengan inisiatif pengajuan peraturan desa yang melibatkan pemerintah lokal, para pegiat lingkungan, serta dukungan masyarakat setempat agar keberlanjutan lingkungan dan keberadaan burung-burung ini dapat terus terjaga.

Sumber: Usulan Larangan Berburu Burung Di Jabar Soroti Perlindungan Kawasan Persinggahan Raptor Di Megamendung
Sumber: Hutan Megamendung Bogor Jadi Kawasan Penting Jalur Migrasi Burung Pemangsa



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *