
KORAN MANDALA –Krisis air bersih melanda kawasan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, seiring musim kemarau yang menyebabkan sumur-sumur warga mengering.
Kondisi tersebut memaksa masyarakat mengantre untuk mendapatkan pasokan air bersih gratis yang disalurkan Perumda Air Minum Tirta Raharja, Kamis (22/10/2026).
Sejak pagi, warga terlihat membawa jeriken, ember, hingga galon untuk mengambil air di lokasi penyaluran. Mereka rela mengantre demi memenuhi kebutuhan air sehari-hari setelah sumber air di rumah masing-masing tidak lagi mencukupi.
Kondisi ini dirasakan warga di kawasan Jalan Kolonel Masturi, Cipageran. Sejumlah sumur gali maupun sumur bor dilaporkan mulai mengering, sementara air yang masih tersisa di beberapa sumur disebut keruh dan kotor sehingga tidak layak digunakan.
Salah seorang warga Cipageran, Wahyu, mengatakan dirinya harus mengambil air ke lokasi penyaluran bersama tetangga karena sumur di rumahnya sudah kehabisan air.
“Initeh karena di rumah tidak ada air di kampung gitu, jadi ngambil air kesini bareng tetangga. Ngambil air satu orang biasanya 5 galon air,” ujar Wahyu saat ditemui di lokasi penyaluran. Kamis (22/10/2026)

Ia menjelaskan, air bersih tersebut dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga, mulai dari minum dan memasak hingga mandi serta mencuci.
Bantuan air gratis dari Perumda Air Minum Tirta Raharja menjadi salah satu tumpuan warga untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun, meningkatnya jumlah warga yang datang mengambil air turut memunculkan kekhawatiran mengenai kecukupan pasokan.
Wahyu mengaku telah dua kali mendatangi lokasi penyaluran air gratis. Pada kedatangan terbarunya, ia melihat aliran air dari selang penampungan lebih kecil dibandingkan hari sebelumnya.
“Saya baru dua kali ngambil air di sini karena di sumur rumah airnya sudah habis sama sekali. Air di sini sangat membantu karena gratis dan diperuntukkan bagi umum. Tapi hari ini alirannya agak kecil, mungkin dikurangi dari dalamnya. Jadi tidak tahu ini nanti kebagian atau tidak, padahal kalau kemarin alirannya masih besar dan deras,” ungkapnya.
Meski demikian, Wahyu mengapresiasi bantuan yang diberikan kepada masyarakat terdampak kekeringan. Menurutnya, penyaluran air tersebut sangat membantu warga yang kesulitan mendapatkan air bersih di lingkungan tempat tinggal mereka.
“Terima kasih banyak kepada pihak PDAM karena sudah menyediakan fasilitas air bersih ini. Warga dari Cipageran khususnya pada datang ke sini karena sumur-sumur mereka sudah pada kosong, kering, kotor, dan keruh. Saat ini tempat ini jadi satu-satunya tumpuan kami,” tambahnya.
Krisis air bersih tersebut membuat warga harus meluangkan waktu dan tenaga untuk mengambil air dari lokasi penyaluran. Jika berlangsung berkepanjangan, keterbatasan pasokan air juga berpotensi mengganggu pemenuhan kebutuhan sanitasi dan kebersihan rumah tangga.
Wahyu berharap bantuan air bersih dapat terus diberikan selama warga masih mengalami kesulitan mendapatkan air dari sumur mereka. Ia juga berharap hujan segera turun agar kondisi sumber air kembali membaik.
“Harapan saya dan warga di sini sederhana saja, mudah-mudahan air cepat datang dan hujan segera turun secara merata, supaya warga tidak perlu repot dan kesulitan lagi mengantre air seperti ini setiap hari,” pungkasnya.
