Thursday, October 22News That Matters

Jagad Music Waldorf Vol.1: Saat Musik Jadi Ruang Tumbuh Bersama Anak


KORAN MANDALA – Minggu pagi (18/10/2026), Jagad Alit Waldorf, sekolah Waldorf di Bandung yang menerapkan pendekatan pendidikan holistik, sukses menggelar Jagad Music Waldorf Vol. 1 di lingkungan sekolahnya di Jalan Babakan Jeruk IIIE, Pasteur, Kota Bandung.

Pada pergelaran perdana ini, panitia mengusung tema “Senandung Lingkar Harmoni, Merayakan Melodi Kebersamaan“. Acara berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB, terbuka untuk umum, dan tidak dipungut biaya. Sebagian besar pengunjung adalah keluarga muda yang datang bersama anak-anak mereka, dari balita hingga usia sekolah dasar.

Asep Suhendar, guru TK Jagad Alit Waldorf yang kali ini menjadi Program Manager acara, menyampaikan bahwa rangkaian acara terdiri atas music performance, mini talkshow, Waldorf Experience Corner, dan bazar makanan.

Lebih lanjut, Asep mengatakan acara ini dipersembahkan untuk orang tua dan anak. Karena itu, panitia menghadirkan musik yang ramah jiwa dan sesuai dengan tahap tumbuh kembang anak. Panitia juga mengundang dua sosok berpengalaman sebagai narasumber: Kenny Dewi, pendidik yang sarat pengalaman di bidang pendidikan anak dengan pendekatan Waldorf, dan Airik Tatooz, musikus dari band Saratus Persen yang menaruh perhatian pada musik tradisional Nusantara.

Pendidikan Waldorf sendiri dirintis oleh filsuf Austria, Rudolf Steiner, di Stuttgart, Jerman, pada 1919. Pendekatan ini memandang anak sebagai pribadi utuh yang tumbuh melalui kepala, hati, dan tangan. Karena itu, seni, gerak, dan musik bukan pelajaran tambahan, melainkan bagian dari keseharian belajar anak.

Festival Dalam Pendidikan Waldorf Untuk Anak Usia Dini

Dibuka dengan alunan tarawangsa

Sejak pagi, pengunjung disambut alunan tarawangsa yang dimainkan Yusman pada rebab dan Kokoy, murid kelas 3 dari sekolah Waldorf lain, pada kacapi. Sementara itu, anak-anak bermain bebas di halaman sekolah yang dinaungi bentangan kain biru dan putih. Di bawah pohon, papan tulis bergambar kapur warna-warni bertuliskan “Selamat Datang” menyambut setiap keluarga yang datang.

Acara kemudian dibuka dengan circle TK, yaitu lingkaran bernyanyi dan bergerak bersama yang menjadi bagian dari keseharian murid Jagad Alit. Orang tua dan anak ikut berdiri melingkar di atas rumput, menirukan gerakan dan nyanyian yang dipandu guru TK, Rindha, di bawah cahaya pagi yang menembus sela-sela kain peneduh. Setelah itu guru SD, Nada, memandu circle SD.

Bagi murid Jagad Alit, circle adalah ritual pagi. Lewat lagu, sajak, dan gerak tubuh, anak-anak diajak hadir sepenuhnya sebelum memulai kegiatan. Pagi itu, para orang tua ikut merasakan apa yang dialami anak-anak mereka setiap hari di sekolah.

Storytelling Dalam Pendidikan Waldorf

Setelah circle, para orang tua diajak masuk ke kelas untuk mengikuti Waldorf Experience. Di sana mereka mencoba kegiatan yang biasa dilakukan anak-anak di sekolah Waldorf, seperti membentuk lilin lebah (beeswax modelling), melukis basah wet-on-wet, menggambar dengan krayon balok, dan merajut dengan jari (finger knitting), sambil berbincang tentang filosofi di baliknya.

Jagad Music Waldorf - Wet on Wet Painting di Jagad Alit
Jagad Music Waldorf – Wet on Wet Painting di Jagad Alit

Di meja kayu panjang, sapuan cat merah muda dan kuning perlahan menyebar di atas kertas basah. Kegiatan-kegiatan itu bukan sekadar keterampilan tangan. Melukis basah mengajak anak mengenal warna dengan perasaan, membentuk lilin lebah melatih kesabaran, dan merajut dengan jari membangun ketekunan. Sementara orang tua belajar di kelas, anak-anak tetap bermain bebas di area outdoor.

Selanjutnya: Belajar Musik Pentatonik dan Tanpa Paksaan





Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *