Wednesday, October 21News That Matters

Apa Yang Mereka Minta Sebagian Besar Saya Ikuti


Wacana Berita, Jakarta –

Gaya Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang kerap menyuarakan narasi kemandirian nasional dan patriotisme ekonomi acap kali disalahartikan oleh sejumlah pihak sebagai bentuk sikap anti-asing atau isolasionisme. Namun ia membantah hal tersebut dengan membongkar prinsip fundamental politik luar negeri yang dianut oleh Kabinet Merah Putih.

Prabowo menegaskan bahwa pihaknya adalah presiden yang sangat terbuka, kooperatif dan bersahabat dengan dunia internasional, terutama dengan negara-negara kawasan. Ia memastikan bahwa pemerintah mengadopsi garis diplomasi damai peninggalan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).

Baca Juga: Prabowo Tantang Rencana Downgrade MSCI: Indonesia Tidak Takut Siapapun dan Tidak Akan Gentar

“Saya mengikuti juga garis politik beliau pada saat itu, kita ingin punya hubungan baik dengan semua tetangga kita,” ungkap Prabowo dikutip Kamis (22/10/2026).

Untuk membuktikan bahwa narasi keterbukaannya bukan sekadar lip service, presidenmembeberkan rekam jejak lawatan diplomasinya. Ia mengaku tak henti-hentinya melakukan manuver safari ke berbagai negara tetangga guna merajut kemitraan strategis.

Alih-alih bersikap egois atau mendikte kawasan, presiden mengklaim telah menampilkan sosok pemimpin yang sangat akomodatif terhadap kepentingan sekutu regionalnya.

“Saya keliling, saya mau kerja sama dengan mereka. Apa yang mereka minta sebagian besar saya ikuti, dan itu yang berusaha kita pegang teguh,” kata Prabowo.

Indonesia menurutnya sama sekali tidak anti-asing, melainkan sangat rasional dalam bernegosiasi. Selama permintaan dari negara sahabat membawa dampak win-win solution bagi stabilitas kawasan dan tidak mencederai kedaulatan bangsa, presiden menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi secara total.

Prabowo kemudian merumuskan doktrin politik luar negerinya yang didasarkan pada perhitungan geopolitik yang matang. Ia menyadari bahwa di tengah polarisasi kekuatan militer dunia, negara tidak boleh terjebak dalam pusaran konflik negara-negara adidaya. Pendekatan tanpa musuh menjadi harga mati bagi kelancaran pembangunan ekonomi domestik.

“Saya sudah sampaikan, garis politik luar negeri saya adalah: seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak,” ungkap Prabowo.

Adapun Presiden Prabowo mendeklarasikan bahwa wajah pemerintahannya di mata internasional adalah wajah negara bertetangga yang baik dan bisa diandalkan dalam segala situasi.

“Saya ingin menjadi the good neighbor. Yang saya ingin jalankan adalah the good neighbor policy,” tegas Prabowo.

Baca Juga: PHK di Jabar Masih Tinggi Meski Investasi Melonjak Tajam, Ini Pengakuan Dedi Mulyadi

Doktrin Good Neighbor Policy (Kebijakan Tetangga yang Baik) ini diharapkan mampu memberikan garansi kenyamanan bagi para investor asing, mitra dagang internasional, serta menyingkirkan sama sekali kekhawatiran dunia global terhadap potensi proteksionisme berlebihan di era pemerintahan dari Prabowo Subianto.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *