
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik menyambut positif rencana pengusaha Mohammad Jusuf Hamka alias Babah Alun bersama sejumlah pengusaha lainnya untuk membeli saham di pasar modal dengan nilai mencapai Rp5 triliun.
Rencana tersebut muncul saat pasar saham Indonesia tengah tertekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan sempat merosot ke kisaran 4.900 pada perdagangan Senin (19/10/2026).
Jeffrey menilai dukungan dari berbagai pihak dapat membantu memperkuat pasar modal. Namun, BEI belum bisa memastikan apakah rencana pembelian saham tersebut benar-benar telah direalisasikan pada perdagangan hari itu.
“Kami menyambut baik siapa pun yang memberikan kontribusi dan dukungan,” ujar Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Senin (19/10/2026).
Ia menjelaskan, BEI tidak dapat mengungkapkan apakah pihak tertentu telah melakukan transaksi saham. Pasalnya, informasi mengenai aktivitas transaksi investor bersifat rahasia.
Menurut Jeffrey, dukungan terhadap pasar modal memang penting, tetapi keterbukaan informasi tetap harus mengikuti aturan yang berlaku.
BEI Dorong Semua Investor Ikut Berperan
Jeffrey menegaskan, kekuatan pasar modal Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan satu kelompok investor. Pasar yang sehat membutuhkan kontribusi investor ritel, investor institusi dalam negeri, hingga investor asing.
Maka dari itu, BEI akan terus mendorong keterlibatan investor institusi domestik sekaligus menjaga kepercayaan investor asing terhadap pasar saham Indonesia.
Keseimbangan partisipasi dari berbagai kelompok investor dinilai penting untuk menjaga aktivitas perdagangan dan mendukung perkembangan pasar modal dalam jangka panjang.
Baca Juga: BEI Ubah Lagi Aturan ARB, Saham Rp11–Rp14 Kini Dibatasi Jadi Rp1
Baca Juga: BEI Keluarkan Saham HSC dari Perhitungan IHSG, Ini Dampaknya
Baca Juga: Saham Bank dan Tambang BUMN Kompak Menguat Usai Danantara Dikabarkan Siap Borong
Sebelumnya, Babah Alun menyampaikan rencana bersama sejumlah pengusaha untuk membeli saham senilai hingga Rp5 triliun pada Senin (19/10/2026).
Rencana itu mencuat ketika IHSG berada di bawah tekanan setelah MSCI mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia, dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Sentimen tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar dan menekan pergerakan IHSG hingga kembali ke kisaran 4.900.
Meski rencana pembelian saham bernilai jumbo itu mendapat sambutan positif dari BEI, realisasi transaksinya belum dapat dikonfirmasi oleh bursa.
