Sunday, October 18News That Matters

FK Unjani-Gerkatin Latih Teman Tuli Kenali Risiko dan Kesiapsiagaan Bencana


KORAN MANDALA – Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani (FK Unjani) bersama Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) menggelar sosialisasi dan pelatihan kesiapsiagaan bencana bagi teman tuli di Gedung Fakultas Kedokteran Unjani, Minggu (18/10/2026).

Adapun tema kegiatan ini adalah “Mereka Mungkin Tidak Mendengar Suara Sirene, tetapi Tetap Berhak Mendengar Pesan Keselamatan.” Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut diikuti sekitar 60 peserta dari komunitas teman tuli.

Ketua Pelaksana, Dr. dr. Sylvia Mustikasari, mengatakan pemilihan teman tuli sebagai sasaran edukasi didasarkan pada kebutuhan untuk memastikan kesiapsiagaan bencana dapat diakses oleh seluruh kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

“Pemilihan teman tuli sebagai sasaran edukasi berangkat dari kebutuhan untuk memastikan bahwa kesiapsiagaan bencana dapat diakses oleh semua kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas,” ujar Sylvia, Minggu (18/10/2026).

Menurut Sylvia, penyampaian informasi dalam situasi bencana yang mengandalkan suara dapat menjadi tantangan tersendiri bagi teman tuli.

“Dalam kondisi bencana, informasi sering kali disampaikan melalui suara, seperti sirene, pengumuman, atau instruksi verbal. Bagi teman tuli, sistem peringatan dan komunikasi yang hanya mengandalkan suara dapat menjadi tantangan tersendiri,” katanya.

Karena itu, pendekatan kesiapsiagaan perlu disesuaikan melalui komunikasi visual, tulisan, bahasa isyarat, maupun alat bantu lainnya.

“Kami ingin menegaskan bahwa ketulian bukan berarti seseorang tidak mampu menyelamatkan dirinya. Yang diperlukan adalah sistem kesiapsiagaan yang memahami kebutuhan mereka dan memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal ketika bencana terjadi,” tuturnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga menerima perlengkapan pendukung keselamatan berupa rompi identitas teman tuli, peluit, serta notes dan alat tulis.

Rompi diberikan agar teman tuli lebih mudah dikenali petugas maupun penolong ketika terjadi bencana. Adapun peluit dapat digunakan untuk memberikan tanda atau meminta pertolongan, sedangkan notes dan alat tulis menjadi sarana komunikasi ketika komunikasi verbal tidak dapat dilakukan.

Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani (FK Unjani) bersama Gerkatin menggelar edukasi dan pelatihan kesiapsiagaan bencana bagi sekitar 60 teman tuli (Dok. Humas FK Unjani)
Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani (FK Unjani) bersama Gerkatin menggelar edukasi dan pelatihan kesiapsiagaan bencana bagi sekitar 60 teman tuli (Dok. Humas FK Unjani)

Perluas Edukasi Kesehatan dan Keselamatan

Kegiatan ini bukan kali pertama tim FK Unjani memberikan edukasi kepada komunitas teman tuli. Sebelumnya, tim telah melaksanakan edukasi dan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi teman tuli.

Tim pengabdian kepada masyarakat FK Unjani, Dr. Fitriardi Sejati, Sp.B-ET, AIFO-K, FINACS, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kesiapsiagaan kesehatan dan keselamatan yang berkelanjutan.

“Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan yang dilakukan bukan sekadar memberikan edukasi satu kali, tetapi merupakan upaya untuk membangun kesiapsiagaan kesehatan dan keselamatan yang lebih berkelanjutan dan inklusif,” ujarnya.

Jika pelatihan BHD berfokus pada kemampuan memberikan pertolongan pertama, kegiatan kali ini memperluas materi pada kesiapsiagaan menghadapi bencana, termasuk mengenali kondisi darurat, meminta pertolongan, dan berkomunikasi dengan penolong.

Sementara itu, tim pengabdian kepada masyarakat FK Unjani, Dr. dr. Bagus Tjahjono, berharap edukasi kesehatan dan kesiapsiagaan bencana bagi penyandang disabilitas dapat terus dilakukan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat.

“Kami berharap edukasi kesehatan dan kesiapsiagaan bencana bagi penyandang disabilitas perlu dilakukan secara berkelanjutan, bertahap, dan semakin luas, dengan melibatkan komunitas disabilitas sebagai mitra dalam proses edukasi,” ujar Bagus.

Ia juga berharap model edukasi inklusif dapat dikembangkan tidak hanya bagi teman tuli, tetapi juga kelompok penyandang disabilitas lainnya sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Keselamatan Hak Semua Orang

Sylvia berharap peserta dapat meneruskan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan kepada keluarga, komunitas, dan lingkungan sekitar.

“Harapan kami kepada teman-teman tuli yang telah mengikuti pelatihan adalah agar pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh tidak hanya berhenti pada diri sendiri, tetapi juga dapat dibagikan kepada keluarga, komunitas, dan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Selain itu, ia berharap pelatihan tersebut dapat meningkatkan kepercayaan diri teman tuli dalam mempersiapkan diri dan menghadapi situasi darurat.

“Kami ingin teman-teman tuli memiliki rasa percaya diri bahwa mereka mampu mempersiapkan diri, mampu memberikan respons ketika terjadi keadaan darurat, dan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan keselamatan,” ungkapnya.

Ia menegaskan, kesiapsiagaan bencana harus menjangkau semua kalangan tanpa terkecuali, termasuk penyandang disabilitas.

“Keselamatan bukan hanya untuk mereka yang dapat mendengar sirene. Keselamatan adalah hak semua orang. Dan ketika bencana datang, kita tidak boleh membiarkan siapa pun tertinggal hanya karena cara mereka berkomunikasi berbeda,” pungkas Sylvia.

Melalui kegiatan ini, FK Unjani berharap teman tuli semakin percaya diri dalam mempersiapkan diri dan merespons keadaan darurat, sekaligus memperoleh kesempatan yang setara untuk mendapatkan keselamatan ketika bencana terjadi.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *