Sunday, October 18News That Matters

Anantya Kirana Menemukan Makna Perempuan Tangguh Lewat Beautiful Pain, dari Luka Keluarga hingga Berani Bersuara


KORAN MANDALA –Ada luka yang tak selalu terlihat, tetapi diam-diam mengubah cara seseorang memandang dunia. Perceraian orang tua, kehilangan rasa aman, hingga terjebak dalam hubungan yang tak sehat menjadi bagian dari perjalanan emosional yang dihadirkan film Beautiful Pain.

Bagi Anantya Kirana, pemeran Naya, film ini bukan sekadar kisah tentang keluarga yang retak, melainkan juga tentang keberanian seorang perempuan untuk menemukan kembali dirinya sendiri.

Dalam film yang diproduseri Hanung Bramantyo tersebut, Anantya memerankan Naya, seorang anak yang harus menghadapi perubahan besar dalam hidupnya akibat persoalan keluarga.

Bukan Sekadar Jumpscare, Ini Alasan Film Horor Digemari Penonton Indonesia

Lewat karakter ini, penonton diajak melihat bahwa konflik rumah tangga tidak hanya menjadi urusan dua orang dewasa. Anak-anak pun ikut menanggung luka, bahkan ketika mereka tak memiliki kuasa untuk menentukan apa yang terjadi.

“Menurut aku, ini lebih ke menceritakan seorang perempuan yang punya struggle dalam hidupnya. Dia kehilangan dirinya sendiri karena berada dalam toxic relationship, lalu bagaimana dia bisa keluar dari masalahnya bersama anak-anaknya, sampai akhirnya sukses dan menemukan dirinya sendiri,” ujar Anantya saat berbincang mengenai film Beautiful Pain.

Bagi Anantya, perjalanan Naya adalah potret tentang bagaimana seseorang bisa kehilangan arah ketika berada dalam situasi yang tidak sehat.

Namun, cerita itu tidak berhenti pada luka. Ada proses panjang untuk bangkit, menerima keadaan, dan kembali mengenali diri sendiri.

Pesan yang ingin disampaikan pun terasa sederhana, tetapi penting, terutama bagi perempuan yang tengah menghadapi situasi serupa: jangan takut untuk bersuara.

“Yang pasti, buat perempuan, selalu kuat dan berani buat bersuara. Itu sih yang paling penting buat aku,” katanya.

Memerankan Naya, Menghadapi Emosi yang Tidak Sederhana

Menghidupkan Naya bukan perkara mudah bagi Anantya. Ketika pertama kali membaca naskah, ia menyadari bahwa karakter tersebut memiliki beban emosional yang cukup berat.

Naya bukan hanya menghadapi perceraian orang tuanya, tetapi juga harus beradaptasi dengan perubahan kondisi hidup yang sebelumnya terasa nyaman menjadi penuh ketidakpastian.

Di usia yang masih muda, Anantya harus memahami emosi seorang anak yang berada di tengah persoalan orang dewasa.

Tantangannya bukan semata-mata menghafal dialog atau menjalankan adegan, melainkan membangun pemahaman terhadap luka dan pergulatan batin yang dialami karakternya.

Proses pendalaman dilakukan melalui sesi reading berulang kali dan lokakarya bersama para pemain. Arahan sutradara serta diskusi dengan para pemeran lainnya menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antarkarakter dan menemukan emosi yang tepat.

“Lumayan sulit waktu aku baca skripnya, karena memang Naya ini cukup berat. Dia korban perceraian orang tuanya, terus juga mengalami perubahan posisi hidup, dari yang tadinya enak menjadi tidak enak. Kami melakukan reading beberapa kali, dibantu sutradara, dan semua pemain juga banyak ngobrol sampai akhirnya menjadi film ini,” tutur Anantya.

Tekanan selama proses pendalaman karakter pun tak bisa dihindari. Sejumlah adegan Naya menuntut kesiapan emosional yang tidak ringan bagi dirinya.

“Ada banget kesulitannya, karena adegan-adegan Naya lumayan berat buat aku sendiri. Saat reading dan workshop, memang agak pressure. Tapi karena dukungan semuanya, alhamdulillah aku bisa melewatinya,” ungkapnya.

Meski proses produksi film ini telah berlangsung sekitar tiga tahun lalu, pengalaman tersebut tampaknya meninggalkan pemahaman yang terus berkembang dalam diri Anantya.

Tiga Tahun Berlalu, Cara Pandangnya Berubah

Menariknya, jarak waktu antara proses syuting dan kondisi Anantya saat ini menghadirkan perspektif baru terhadap cerita Beautiful Pain. Saat pertama kali terlibat dalam film ini, ia mengaku lebih melihatnya sebagai kisah tentang anak-anak yang harus menghadapi perceraian orang tua.

Namun, seiring bertambahnya usia dan pemahamannya, Anantya mulai melihat lapisan cerita yang lebih luas. Baginya, Beautiful Pain juga berbicara tentang pemberdayaan perempuan atau women empowerment—tentang keberanian untuk mengenali penderitaan, menyuarakan perasaan, dan mengambil langkah untuk keluar dari hubungan yang menyakitkan.

“Kalau dulu, aku melihatnya seperti cerita tentang kedua orang tua yang berpisah. Tapi sekarang, aku melihat bagaimana seorang perempuan bisa struggle dan sekeren itu untuk speak up tentang apa yang dia rasakan,” kata Anantya.

Perubahan sudut pandang itu membuat pesan film terasa semakin relevan. Perempuan tidak semestinya terus-menerus diminta bertahan dalam keadaan yang melukai dirinya. Ada kalanya keberanian justru hadir ketika seseorang mulai mengakui bahwa dirinya tidak baik-baik saja, kemudian mencari jalan untuk keluar dari keadaan tersebut.

Anantya berharap film ini bisa menjadi ruang refleksi bagi perempuan yang sedang berjuang menghadapi persoalan hubungan maupun fase sulit dalam hidupnya.

“Semoga dengan adanya film ini, perempuan-perempuan di luar sana yang sedang struggle dengan hubungan atau masa-masa hidupnya bisa berani speak up dan keluar dari masalahnya,” ujarnya.

Pesan untuk Anak-Anak yang Tumbuh dalam Keluarga yang Retak

Selain membawa pesan tentang keberanian perempuan, Beautiful Pain juga menyentuh persoalan anak-anak yang harus menghadapi perceraian orang tua. Melalui karakter Naya, film ini mengingatkan bahwa perubahan dalam keluarga dapat meninggalkan pergulatan emosional yang tidak selalu mudah dipahami atau diungkapkan oleh seorang anak.

Anantya pun menyampaikan pesan khusus kepada anak-anak yang mengalami situasi serupa. Ia memahami bahwa menghadapi perpisahan orang tua bukan perjalanan yang mudah.

Ada kesedihan, kebingungan, dan proses panjang untuk menerima kenyataan bahwa kehidupan keluarga tidak lagi sama.

“Yang pasti, terus semangat. Karena pasti berat melihat kondisi orang tua yang berpisah. Tapi, bagaimanapun juga, kita harus pelan-pelan berdamai dan menerima semuanya. Semoga apa yang kalian lalui sekarang cepat selesai, dan kita tetap sayang sama kedua orang tua,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu sisi paling manusiawi dari cerita yang dibawa Beautiful Pain. Anak-anak tidak selalu mampu memahami alasan di balik konflik orang tua mereka.

Karena itu, proses menerima keadaan membutuhkan waktu, dukungan, dan ruang untuk merasakan emosi tanpa harus menyalahkan diri sendiri.

Film ini sekaligus membuka ruang bagi penonton untuk melihat perceraian dari sudut pandang yang lebih luas: bukan hanya tentang berakhirnya hubungan pasangan, tetapi juga tentang kehidupan anak-anak yang harus menata ulang rasa aman dan memahami perubahan dalam keluarga mereka.

Dari Luka Menuju Kesempatan untuk Memulai Kembali

Diproduseri Hanung Bramantyo, Beautiful Pain dibintangi Raihaanun, Baim Wong, Tarra Budiman, Jajang C. Noer, Siti Fauziah, Dimas Aditya, Anantya Kirana, Evano Zyan, dan Nikita Mirzani.

Dalam rangkaian penyambutan penonton di Bandung, film ini turut membawa pesan tentang dampak perceraian terhadap anak-anak dan perjuangan sebuah keluarga menghadapi kehidupan yang berubah.

“Film Beautiful Pain menunjukkan bahwa dalam perceraian, ternyata anak-anak juga menjadi korban. Dan perjalanan Naya untuk menerima hidup barunya sangat inspiratif bagiku. Terima kasih untuk semua yang sudah menyaksikan perjuangan keluarga Niken,” demikian pesan yang disampaikan dalam penyambutan penonton Bandung.

Pada akhirnya, Beautiful Pain tidak sekadar menawarkan kisah tentang keluarga yang kehilangan keutuhan. Film ini berbicara tentang luka yang membutuhkan waktu untuk pulih, tentang keberanian menerima kenyataan, dan tentang kemungkinan untuk memulai kembali ketika hidup tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Melalui Naya, Anantya Kirana menghadirkan pengingat bahwa seseorang tidak harus terus terjebak dalam masa lalunya. Ada kesempatan untuk tumbuh, menemukan suara sendiri, dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Sebab, terkadang, langkah pertama untuk sembuh bukanlah berpura-pura kuat, melainkan berani mengakui rasa sakit dan mengambil keputusan untuk mengubah keadaan.

Film Beautiful Pain dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 22 Oktober 2026.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *