
Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkuat koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemangku kepentingan pasar modal untuk menjaga kepercayaan investor setelah MSCI mengumumkan konsultasi proposal perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Pengumuman MSCI pada 15 Oktober 2026 tersebut muncul di tengah tekanan di pasar saham domestik. Pada perdagangan sepekan, 12-16 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 14,91% ke level 5.185,105, dari posisi 6.093,759 pada pekan sebelumnya.
BEI menegaskan, proposal MSCI masih dalam tahap konsultasi hingga 30 April 2027 sehingga belum menjadi keputusan final. Bursa menghormati independensi MSCI dalam melakukan penilaian berdasarkan metodologi yang berlaku, tetapi akan meminta klarifikasi lebih lanjut mengenai dasar pertimbangan pengumuman tersebut dengan mempertimbangkan reformasi yang telah dilakukan.
BEI bersama OJK dan seluruh pemangku kepentingan juga menyatakan akan terus menjaga agar perdagangan berlangsung secara teratur, wajar, dan efisien.
Sebagai respons atas pengumuman MSCI, sejumlah pejabat dan pimpinan lembaga terkait menghadiri konferensi pers di Gedung BEI pada Jumat (16/10/2026). Mereka antara lain Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani, serta Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Suyudi Ario Seto.
Dalam kesempatan tersebut, OJK menegaskan komitmen memperkuat penegakan hukum di sektor pasar modal melalui koordinasi dan sinergi dengan pihak terkait guna menjaga integritas pasar.
Tekanan pasar juga tercermin dari penurunan kapitalisasi pasar BEI sebesar 14,43% menjadi Rp9.157 triliun, dari Rp10.701 triliun pada pekan sebelumnya.
Pada Jumat (16/10/2026), BEI bahkan menghentikan sementara perdagangan atau trading halt pada pukul 08.58.00 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS), setelah IHSG mengalami penurunan hingga 8%.
Meski pasar mengalami tekanan, rata-rata nilai transaksi harian hanya berubah tipis, yakni turun 0,07% menjadi Rp16,21 triliun dari Rp16,23 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata volume transaksi harian turun 5,22% menjadi 44,102 miliar saham, dari 46,533 miliar saham.
Sebaliknya, rata-rata frekuensi transaksi harian meningkat 2,46% menjadi 1,72 juta kali transaksi, dibandingkan 1,67 juta kali transaksi pada pekan sebelumnya.
Tekanan juga terlihat dari pergerakan investor asing. Pada Jumat (16/10/2026), investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp3,34 triliun. Secara kumulatif sepanjang 2026, nilai jual bersih investor asing mencapai Rp88,19 triliun.
Baca Juga: IHSG Anjlok Terdalam Sejak 1998, Pasar Panik Usul Standalone Market MSCI
Di luar koordinasi antarotoritas, BEI juga menyoroti pentingnya peningkatan literasi dan kewaspadaan masyarakat dalam berinvestasi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penyelenggaraan Ring the Bell for Financial Literacy 2026 pada Rabu (14/10/2026), dalam rangka World Investor Week dan Bulan Inklusi Keuangan.
Mengusung tema “Stay Smart. Stay Alert. Stay Resilient”, kegiatan tersebut bertujuan memperluas pemahaman masyarakat mengenai investasi, meningkatkan kewaspadaan terhadap modus penipuan, serta memperkuat ketangguhan investor dalam menghadapi risiko dan dinamika pasar.
Kegiatan itu diikuti sekitar 400 peserta yang terdiri atas calon investor, investor pasar modal, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Secara global, kegiatan serupa melibatkan 62 bursa efek di berbagai negara sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi dan perlindungan investor.
